OPINI 2 menit baca

"Menemukan Allah” dalam Kemurnian Iman dan Kemajuan Berpikir: Memahami Tauhid Perspektif Muhammadiyah

Rudi Pramono 11 Juli 2026 26 views

Oleh Rudyspramz, MPI

​Tauhid bukan sekadar bab pertama dalam kitab-kitab teologi lama; ia adalah fondasi eksistensial yang menentukan bagaimana seorang Muslim memandang penciptanya, dirinya sendiri, dan alam semesta. Dalam Kajian Rutin Ketarjihan bersama Ust. Lukman Hakim (Ketua MTT PDM Bojonegoro), esensi mengesakan Allah (wahhada-yuwahhidu-tauhidan) dibedah secara mendalam, membawa kita pada refleksi bagaimana Muhammadiyah meniti jalan iman di tengah keragaman mazhab pemikiran.

Dialektika Mazhab: Antara Rasionalitas Asy'ariyah dan Kemurnian Salafiyah

Untuk memahami keunikan manhaj (metode) Muhammadiyah, kita perlu melihat peta pemikiran Islam yang telah mewarnai sejarah.

Asy'ariyah mendekati tauhid melalui gerbang logika dan filsafat. Mereka merumuskan sifat-sifat Allah mulai dari nafsiyah, salbiyah, ma'ani, hingga maknawiyah sebagai ikhtiar akal manusia untuk membentengi akidah dari visualisasi yang keliru tentang Tuhan.

​Salafiyah memilih jalan yang berbeda. Mereka merawat kemurnian iman dengan langsung merujuk pada teks Al-Qur'an dan Sunnah tanpa melakukan takwil (interpretasi jauh). Pendekatannya bertumpu pada trilogi yang tegas: Tauhid Rububiyah (keyakinan pada penciptaan), Tauhid Uluhiyah (pemurnian ibadah), dan Tauhid Asma wa Sifat (keimanan pada nama dan sifat Allah secara apa adanya).

Kedua mazhab ini memiliki kontribusi besar, namun mereka sering kali diposisikan dalam kutub yang berseberangan. Di sinilah Muhammadiyah hadir membawa angin segar.

Karakter Tauhid Muhammadiyah: Salaf dalam Metode, Kontekstual dalam Gerakan

Muhammadiyah memilih untuk tidak memenjarakan diri dalam sekat eksklusivitas mazhab tertentu. Karakteristik tauhid dalam paham Muhammadiyah berdiri di atas tiga pilar utama:

1. Penekanan pada Uluhiyah, Sifat, dan Af'al Allah
Muhammadiyah berfokus pada bagaimana mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya (Af'al), sifat-sifat-Nya, dan yang paling krusial: memurnikan penghambaan kita kepada-Nya (Uluhiyah).

2. Menghindari Teologi Spekulatif
Muhammadiyah dengan sadar menghindari perdebatan filsafat yang rumit dan spekulatif mengenai zat Allah—suatu wilayah yang memang berada di luar jangkauan akal manusia yang terbatas. Energi umat tidak dihabiskan untuk berdebat di ruang hampa, melainkan dialihkan untuk membersihkan akidah masyarakat dari kabut Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat (TBK).

3. Pendekatan Modernis dan Ayat Kauniyah
Inilah pembeda utama. Tauhid dalam Muhammadiyah tidak membuat umatnya menutup mata dari dunia. Sebaliknya, tauhid bersifat kontekstual dan mendorong umat untuk meneliti jagat raya (ayat kauniyah). Mempelajari sains, astronomi, dan teknologi bukanlah hal yang terpisah dari iman, melainkan manifestasi langsung dari pengakuan atas kebesaran Allah.

Refleksi dan Konklusi: Iman yang Membebaskan dan Menggerakkan

Pada akhirnya, metodologi tauhid Muhammadiyah bercorak Salaf dalam prinsip, namun modernis dan fleksibel dalam konteks. Muhammadiyah mengambil kemurnian dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi membawakannya dengan semangat zaman yang berkemajuan.

Tauhid yang sejati tidak boleh mandek menjadi perdebatan teks di atas kertas. Ia harus menjelma menjadi dua hal: ibadah yang murni tanpa sekutu, dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai bentuk syukur. Ketika seorang Muslim memahami tauhid dengan benar, ia tidak hanya selamat akidahnya, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat bagi peradaban, meneliti alam semesta dengan takjub sembari berbisik, "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia."

Wallahu a'lam

Sebelumnya Fikih Berkemajuan Muhammadiyah Mencakup Manhaj dan Aplikasi Selanjutnya Menemukan Jangkar Akidah Muhammadiyah: Dialektika Salafiyah...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar