Diskusi mengenai ke mana arah kompas akidah Muhammadiyah, apakah ia berlabuh di dermaga Asy’ariyah atau Salafiyah, selalu menjadi ruang dialektika yang memikat.
Melalui kacamata Ust. Lukmanul Hakim (Ketua MTT PDM Bojonegoro), kita diajak melihat bahwa Muhammadiyah tidak sedang terjebak dalam dikotomi label teologis, melainkan sedang merajut sintesis yang hidup demi menjawab tantangan zaman.
Berikut adalah refleksi mendalam atas corak pemikiran akidah Muhammadiyah:
1. Tauhid yang Membumi : Bukan Sekadar Teori, Tapi Aksi
Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT), Muhammadiyah memang membagi tauhid ke dalam tiga dimensi: Uluhiyah (keesaan ibadah), Sifat, dan Af’al (perbuatan Allah).
Secara tekstual, pembagian ini memiliki kemiripan materi dengan teologi Asy’ariyah. Namun, letak keindahan akidah Muhammadiyah ada pada karakternya yang praktis dan transformatif.
Muhammadiyah sengaja memberi bobot lebih pada Tauhid Uluhiyah. Mengapa? Karena akidah bagi Muhammadiyah adalah sebuah jawaban atas realitas. Ia hadir bukan untuk diperdebatkan di ruang kelas yang sunyi, melainkan untuk membersihkan masyarakat dari kabut tahayul, khurafat, dan belenggu kesyirikan yang merusak kemurnian iman.
2. Membaca Allah Lewat Semesta
Melompati Spekulasi dengan Sains
Ketika banyak mazhab teologi terjebak dalam labirin perdebatan spekulatif membahas zat Allah atau bagaimana relasi rumit antara zat dan sifat-Nya Muhammadiyah memilih jalan yang lebih rendah hati. Menyadari keterbatasan akal manusia, Muhammadiyah mengerem diri dari perdebatan metafisika yang tak berujung.
Sebagai gantinya, pandangan diarahkan pada hamparan alam semesta. Ini adalah undangan untuk melakukan natural theology (teologi alam): merenungkan ayat-ayat kauniyah untuk menemukan kebesaran Sang Pencipta. Dari sinilah akidah menjelma menjadi bahan bakar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengenal Allah tidak lagi lewat perdebatan kata, melainkan lewat penemuan dan kemajuan peradaban.
3. Metodologi yang Mengakar Sekaligus Adaptif
Secara ruh dan semangat, Muhammadiyah bernapas dalam frekuensi yang sama dengan Salafiyah : sebuah kerinduan yang mendalam untuk rujuk (kembali) kepada kemurnian Al-Qur’an dan Sunnah makbullah. Namun, Muhammadiyah tidak menutup mata. Di sinilah letak perbedaannya dengan Salafiyah yang cenderung tekstual-kaku. Muhammadiyah tetap membuka pintu bagi takwil (penafsiran kontekstual) yang berbasis pada dalil-dalil mutawatir apabila situasi menuntutnya. Muhammadiyah memilih untuk bebas merdeka; tidak menambatkan diri pada satu sekte atau mazhab teologi tertentu secara eksklusif, melainkan menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pemandu utama yang dinamis.
Sebuah Sintesis Tajdid
Pada akhirnya, Muhammadiyah adalah sebuah gerakan tajdid (pembaruan). Ia berdiri di titik temu yang anggun : meminjam kekayaan literatur teologis yang dekat dengan Asy’ariyah, bergerak dengan derap langkah pemurnian ala Salafiyah, namun tetap mengawinkannya dengan nalar kontekstual.
Akidah Muhammadiyah adalah akidah yang kokoh mengakar pada wahyu, namun cabangnya rindang menaungi kemajuan zaman.
wallahu a'lam
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!