OPINI 2 menit baca

Melintasi Zaman tanpa Kehilangan Akar: Diskusi Reflektif atas Relasi Muhammadiyah, Kitab Kuning, dan Ijtihad Modern

Rudi Pramono 06 Agustus 2026 28 views
Melintasi Zaman tanpa Kehilangan Akar: Diskusi Reflektif atas Relasi Muhammadiyah, Kitab Kuning, dan Ijtihad Modern

Peta pemikiran Islam di Indonesia selalu diwarnai oleh dinamika antara pemeliharaan tradisi dan semangat pembaharuan (tajdid). Salah satu diskursus yang kerap mengemuka adalah persepsi mengenai jarak antara gerakan Muhammadiyah dengan tradisi kajian kitab klasik atau kitab kuning. Kritik yang mengemuka- sebagaimana pernah disinggung oleh KH Said Aqil Siroj- menyoroti betapa kuatnya orientasi Muhammadiyah pada tajdid sosial-kelembagaan, namun di sisi lain terkesan mengalami pendangkalan atau pengesampingan terhadap literatur pustaka primer (maraji') klasik yang melandasi tradisi keilmuan pesantren. 

Namun, fenomena membaca ini semata-mata sebagai “kerenggangan” adalah sebuah penyederhanaan yang mengabaikan epistemologi keilmuan Muhammadiyah itu sendiri. 

Epistemologi Tarjih: Antara Penghormatan dan De-sakralisasi Pustaka 

Lahirnya pendekatan Majelis Tarjih Muhammadiyah bukan bertujuan untuk membuang khazanah klasik, melainkan menetapkan ulang posisi metodologisnya. Dalam tradisi tajdid, kitab kuning dipandang sebagai karya intelektual manusia (turats) yang sangat bernilai, namun tidak berukuran sakral. Muhammadiyah menempatkan Al-Qur'an dan As-Sunnah As-Shahihah sebagai otoritas tertinggi. Kitab-kitab mazhab fiqh termasuk mazhab Syafi'i yang dominan di Nusantara diperlakukan sebagai referensi komparatif (maraji' muqaranah), bukan dogma yang menuntut taklid mutlak.

Prinsip ini melahirkan bentuk praktik ibadah yang dipadatkan (sebagaimana terangkum dalam Himpunan Putusan Tarjih/HPT): lugas, sistematis, dan terkoneksi langsung dengan riwayat dalil yang dinilai paling rajih (kuat). 

Akar Intelektual: Warisan KH Ahmad Dahlan dan Reformisme Islam 

Secara historis, karakter kritis Muhammadiyah ditetapkan kuat pada perjalanan intelektual pendirinya, KH Ahmad Dahlan. Berguru di Hijaz dan menyerap pemikiran para pembaharu seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, serta Rashid Rida, KH Ahmad Dahlan membawa pulang semangat pemurnian tauhid (purifikasi) sekaligus pembelanjaan berpikir. 

Persentuhan ini membentuk semangat ilmu yang inklusif namun taktis. Bagi Ahmad Dahlan, pemahaman mendalam terhadap teks agama tidak boleh berhenti pada artikulasi wacana di ruang kelas (ilmu qauliyah), melainkan harus mewujud menjadi aksi nyata (ilmu amaliyah). Maka, keberaksaraan agama tidak diukur dari seberapa tebal kitab yang dibaca, melainkan seberapa jauh teks tersebut mampu menggerakkan kemanusiaan, membangun rumah sakit, memerdekakan kemiskinan, dan membangun sekolah. 

Sintesis Reflektif: Menjaga Keseimbangan Masa Depan 

​Mengkritisi hubungan Muhammadiyah dan kitab kuning secara ilmiah menyadarkan kita akan pentingnya dialog antar-tradisi:
​Aksi Sosial adalah Fiqh yang Membumi: Amalan nyata Muhammadiyah melalui dakwah pencerahan dan aksi sosial (al-Ma'un) sejatinya adalah bentuk pemaknaan fiqh yang paling konkrit dalam menjawab tantangan zaman.

Kebutuhan Dialektika Turats.

Kritik dari tokoh-tokoh seperti KH Said Aqil Siroj memberikan pengingat konstruktif agar kader Muhammadiyah tidak kehilangan fondasi metodologis (ushul fiqh) dan penguasaan bahasa Arab klasik yang mendalam, sehingga ijtihad modern yang dihasilkan tetap berbobot secara akademis-keagamaan.

Pada akhirnya, keberadaan tradisi pesantren dengan ketelitian kitab kuning-nya serta Muhammadiyah dengan semangat tajdid dan aksi sosialnya bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya adalah dua sayap keilmuan Islam Indonesia yang saling melengkapi: yang satu menjaga kekayaan akar tradisi, dan yang satu memastikan pesan Islam tetap relevan menembus zaman.

Sumber : Video KTO ULH (Ust.Lukman Hakim) 

Sebelumnya Majalah Al-Manar sebagai jembatan intelektual dan katalisato... Selanjutnya K3M Muria Wonosobo Gelar Bimtek Kokurikuler untuk Perkuat Ka...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar