KH Ahmad Dahlan dikenal sangat menggemari dan rutin membaca majalah Al-Manar. Gagasan-gagasan modernisme Islam yang dimuat dalam majalah tersebut, terutama mengenai perlunya umat Islam kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah serta meninggalkan taklid buta, sangat memengaruhi cara pandang beliau dalam merintis gerakan Muhammadiyah.
Penyebaran Semangat Modernisme
Al-Manar berfungsi sebagai sarana penyebaran ide-ide pembaruan (islah) yang melampaui batas geografis. Melalui majalah ini, wacana tentang integrasi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, serta kritik terhadap kemunduran umat Islam, sampai ke Nusantara dan menjadi bahan diskursus para tokoh pergerakan Islam.
Model bagi Suara Muhammadiyah
Semangat pembaruan yang dibawa Al-Manar diterjemahkan ke dalam konteks lokal Indonesia melalui penerbitan majalah Suara Muhammadiyah pada tahun 1915. Suara Muhammadiyah dipandang sebagai kelanjutan atau manifestasi dari semangat tajdid yang sebelumnya diusung oleh Al-Manar, sebagai wadah untuk menyebarkan pemikiran Islam yang progresif di kalangan warga Muhammadiyah.
Rujukan Tafsir dan Pemikiran Hukum
Tafsir Al-Manar, yang awalnya dipublikasikan secara berkala dalam majalah tersebut, menjadi rujukan penting bagi para ulama dan cendekiawan Muhammadiyah. Pendekatan tafsir yang bersifat adabi-ijtima'i (sosial-kemasyarakatan) dalam Al-Manar memberikan corak baru dalam memahami teks agama yang lebih relevan dengan tantangan zaman.
Secara ringkas, Al-Manar bukan sekadar media cetak, melainkan "mesin penggerak" pemikiran yang menanamkan benih tajdid di Muhammadiyah, mendorong keberanian untuk melakukan ijtihad, dan membebaskan umat dari kungkungan pola pikir lama yang stagnan.
Sumber : Video KTO ULH (Ust.Lukman Hakim)
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!