KABAR 11 menit baca

Enam Pesan Kepemimpinan, Pencerahan, dan Kebangkitan Potensi Persyarikatan dalam Perspektif QS. Al-Jumu'ah Ayat 2

Rudi Pramono 27 Oktober 2026 35 views
Enam Pesan Kepemimpinan, Pencerahan, dan Kebangkitan Potensi Persyarikatan dalam Perspektif QS. Al-Jumu'ah Ayat 2

Rakor PDM/PDA se-Kedu Raya di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, 25 Okt 2026

JANGAN BIARKAN MUHAMMADIYAH KEHILANGAN RUH PERJUANGANNYA

Enam Pesan Kepemimpinan, Pencerahan, dan Kebangkitan Potensi Persyarikatan dalam Perspektif QS. Al-Jumu'ah Ayat 2

Oleh: KH. Drs. Jumari
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Koordinator Wilayah Kedu

I. MUQADDIMAH: MUHAMMADIYAH JANGAN HANYA BESAR ORGANISASINYA, TETAPI HARUS HIDUP RUHNYA*

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk terus berkhidmat dalam persyarikatan Muhammadiyah.

Muhammadiyah telah berkembang menjadi gerakan Islam yang memiliki jaringan organisasi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah yang sangat luas.

Namun, ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan oleh setiap pimpinan Muhammadiyah:

"Apakah semakin besarnya Muhammadiyah secara kelembagaan selalu diikuti dengan semakin kuatnya ruh keislaman, keikhlasan, dan semangat dakwah para pimpinannya?"

Jangan sampai kita berhasil membangun gedung, tetapi gagal membangun jiwa. Jangan sampai kita berhasil memperbanyak amal usaha, tetapi kehilangan semangat pengajian. Jangan sampai kita sibuk mengurus administrasi organisasi, tetapi lupa bahwa Muhammadiyah lahir sebagai gerakan dakwah, tajdid, dan pencerahan umat.

Muhammadiyah tidak boleh berubah menjadi organisasi yang hanya bergerak secara administratif, tetapi kehilangan ruh spiritualnya. Inilah pentingnya mengembalikan kepemimpinan Muhammadiyah kepada nilai-nilai kenabian sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Jumu'ah ayat 2.

II. CATATAN KOORDINASI ORGANISASI PWM JAWA TENGAH

A. Pemetaan Kinerja Organisasi Wilayah Kedu

Dalam sambutan disampaikan perkembangan KPI organisasi Muhammadiyah di wilayah Kedu. Secara umum, komposisi kategori hijau dan kuning disebut relatif berimbang, sekitar 50:50.

Kebumen disebut sebagai contoh daerah dengan kategori hijau, sedangkan Magelang dan Purworejo disebut sebagai contoh daerah dengan kategori kuning. Pemetaan tersebut hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai penilaian administratif, tetapi menjadi instrumen pembinaan organisasi.

Daerah dengan capaian baik diharapkan mampu mempertahankan dan meningkatkan prestasinya, sementara daerah yang masih membutuhkan penguatan perlu memperoleh pendampingan. Tujuan penilaian bukan sekadar menentukan warna, tetapi mendorong seluruh daerah untuk bergerak menuju kemajuan.

B. Persiapan Tanwir Muhammadiyah

Dalam sambutan disampaikan persiapan Tanwir Muhammadiyah yang direncanakan berlangsung di Palu. Proses penjaringan calon pimpinan disebut akan dilaksanakan pada November 2026.

PDM diharapkan mulai menyiapkan dan mengusulkan nama-nama kader yang memenuhi kriteria kepemimpinan Muhammadiyah. Dalam forum juga disampaikan aspirasi PWM Jawa Tengah terkait Prof. Abdul Mu'ti sebagai salah satu figur yang diharapkan dapat memperoleh amanah kepemimpinan.

Namun, perlu dipahami bahwa tradisi kepemimpinan Muhammadiyah tidak semata-mata didasarkan pada perolehan suara terbanyak. Kepemimpinan ditentukan melalui mekanisme permusyawaratan sesuai ketentuan organisasi.

Dalam sambutan disebut pula contoh sejarah kepemimpinan Muhammadiyah pada masa K.H. A.R. Sutan Mansur, sebagai pengingat bahwa proses penetapan pimpinan memiliki tradisi permusyawaratan tersendiri. Di mana beliau terpilih menjadi ketua PP Muhammadiyah, di luar 13 ketua Pimpinan yang terpilih. Kepemimpinan dalam Muhammadiyah bukan sekadar kompetisi memperoleh suara, melainkan amanah untuk melanjutkan perjuangan persyarikatan.

C. Musyawarah Pimpinan Wilayah dan Milad Muhammadiyah

Disampaikan pula agenda Musyawarah Pimpinan Wilayah (Muspimwil) yang direncanakan berlangsung pada: 21–22 November 2026. Bertempat di Purwokerto, bersamaan dengan rangkaian resepsi Milad Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Momentum ini diharapkan menjadi sarana konsolidasi, evaluasi, dan penguatan komitmen seluruh pimpinan Muhammadiyah.
---

'III LANDASAN PENGAJIAN: QS. AL-JUMU'AH AYAT 2

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 2)

Ayat ini mengandung prinsip penting dalam membangun umat dan mengembangkan kepemimpinan. Rasulullah tidak hanya diutus untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membangkitkan potensi manusia, membina umat, menyucikan jiwa, serta mengajarkan ilmu dan hikmah.

Dari ayat tersebut, terdapat enam pesan yang dapat dijadikan pedoman bagi pimpinan Muhammadiyah.
---

IV. ENAM PESAN KEPEMIMPINAN MUHAMMADIYAH

1️⃣ MEMBANGKITKAN POTENSI: TUGAS PEMIMPIN ADALAH MENEMUKAN KEKUATAN YANG BELUM DISADARI

Spirit kepemimpinan adalah membangkitkan potensi yang dimiliki. Setiap daerah, cabang, ranting, dan amal usaha Muhammadiyah sesungguhnya memiliki potensi untuk berkembang. Namun, tidak semua pimpinan mampu mengenali potensi tersebut.

Dalam pengajian disampaikan bahwa Ketua PDM Wonosobo telah memberikan contoh bagaimana potensi organisasi dapat dikembangkan melalui penguatan amal usaha, dakwah, dan kaderisasi.

Pimpinan harus terus memantau perkembangan PDM, PDA, PCM, dan seluruh unsur persyarikatan. Sebab, terkadang sebuah cabang merasa tidak memiliki kekuatan, padahal sesungguhnya mempunyai sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Belajar dari tongkat Nabi Musa AS
Allah SWT berfirman:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَٰمُوسَىٰ

"Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?" (QS. Thaha: 17)

Nabi Musa menjawab bahwa benda tersebut adalah tongkat yang biasa digunakan untuk bertumpu dan menggugurkan daun bagi kambingnya. Namun, dengan izin dan kekuasaan Allah, tongkat yang tampak sederhana itu menjadi sarana ditampakkannya mukjizat.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang tampak biasa dapat memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kita bayangkan.

Demikian pula Muhammadiyah. Mungkin sebuah ranting hanya mempunyai sedikit anggota, tetapi memiliki tanah wakaf yang belum dikembangkan. Mungkin sebuah cabang belum mempunyai rumah sakit, tetapi memiliki kader profesional yang mampu merintis pelayanan kesehatan. Mungkin sebuah daerah memiliki keterbatasan dana, tetapi mempunyai jaringan jamaah yang kuat.

Tugas pimpinan bukan hanya mengelola apa yang sudah ada, tetapi menemukan dan mengembangkan potensi yang belum tergarap. Dalam sambutan juga disampaikan ungkapan:

“Kalau tidak ada masalah, buatlah masalah.”

Ungkapan ini perlu dipahami sebagai dorongan agar pimpinan tidak terlena dalam zona nyaman. Bukan menciptakan konflik atau persoalan baru, melainkan mencari tantangan, menemukan kesenjangan, dan merumuskan persoalan yang perlu diselesaikan.

Pemimpin yang baik bukan hanya menyelesaikan masalah yang datang, tetapi juga mampu menemukan persoalan penting sebelum berkembang menjadi krisis.

2️⃣ KEPEMIMPINAN YANG MERAKYAT: RENDAH HATI TANPA KEHILANGAN MARTABAT

Seorang pemimpin Muhammadiyah harus dekat dengan umat. Kepemimpinan bukan sarana untuk memperoleh penghormatan, melainkan amanah untuk memberikan pelayanan.

Allah SWT berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikutimu." (QS. Asy-Syu'ara: 215)

Ayat ini merupakan perintah Allah kepada Rasulullah agar bersikap rendah hati terhadap orang-orang beriman. Jika Rasulullah saja diperintahkan untuk merendahkan hati, apalagi kita yang hanya menjadi pimpinan wilayah, daerah, cabang, atau ranting.

Dalam pengajian disampaikan tiga prinsip:

👉 Rendah hati akan mendekatkan pemimpin dengan umat.

👉 Dekat dengan umat harus tetap menjaga martabat.

👉 Dekat dengan pemimpin tidak berarti menghilangkan adab dan hormat.

Seorang pimpinan tidak boleh membangun jarak yang berlebihan dengan jamaah. Jangan sampai pimpinan hanya dikenal melalui foto, spanduk, undangan resmi, dan acara seremonial. Pimpinan harus hadir dalam kehidupan umat, mendengarkan persoalan mereka, serta memberikan keteladanan.

Namun, kedekatan itu harus tetap dilandasi adab, kewibawaan, dan tanggung jawab. Kesombongan merupakan salah satu ancaman terbesar dalam kepemimpinan. Jabatan yang membuat seseorang semakin sombong justru dapat menjadi awal kejatuhannya. Sebaliknya, semakin tinggi amanah seseorang, seharusnya semakin besar kerendahan hatinya.

3️⃣ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ —*
MEMBANGUN TRADISI BELAJAR DAN MENCERAHKAN UMAT

Bagian ayat ini menjelaskan tugas Rasulullah  untuk membacakan ayat-ayat Allah kepada umat manusia. Pesan pentingnya adalah membangun tradisi membaca, belajar, memahami, dan mengamalkan petunjuk Allah.

Muhammadiyah harus menjadi organisasi pembelajar. Tradisi iqra' tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca, tetapi harus berkembang menjadi kemampuan memahami, menganalisis, mengambil pelajaran, dan melakukan perubahan.

Pimpinan Muhammadiyah tidak boleh berhenti belajar hanya karena sudah menjadi pimpinan. Jabatan bukan tanda bahwa seseorang telah selesai menuntut ilmu. Justru semakin tinggi jabatan, semakin besar kebutuhan untuk terus belajar.

Ada dua proses yang harus berjalan secara bersamaan:

✅ Mencerahkan, yaitu menyampaikan ilmu, nilai, dan pemahaman kepada umat.

✅ Tercerahkan, yaitu membuka diri untuk menerima ilmu, nasihat, kritik, dan pengalaman dari orang lain.

Seorang pimpinan tidak cukup hanya pandai memberikan ceramah. Ia juga harus bersedia mendengarkan ceramah. Tidak cukup hanya pandai memberi nasihat. Ia juga harus bersedia menerima nasihat. Pemimpin yang berhenti belajar akan semakin sulit memahami perubahan zaman dan kebutuhan umatnya.

4️⃣ وَيُزَكِّيهِمْ 
MENYUCIKAN JIWA AGAR MUHAMMADIYAH TIDAK KEHILANGAN RUH

Inilah salah satu pesan paling mendasar dalam pengajian. &Wa yuzakkīhim berarti Rasulullah  menyucikan_ jiwa manusia. Muhammadiyah bukan hanya organisasi yang membutuhkan kemampuan manajemen, administrasi, dan profesionalisme.

Muhammadiyah juga membutuhkan kekuatan spiritual. Jangan sampai kita aktif bermuhammadiyah, tetapi kehilangan ruh bermuhammadiyah. Apabila ruh spiritual hilang, aktivitas organisasi berisiko berubah menjadi rutinitas mekanis.

Rapat berjalan. Administrasi lengkap. Laporan tersusun. Program terlaksana. Namun, keikhlasan, keteladanan, ibadah, dan kedekatan kepada Allah justru melemah.

Seolah-olah organisasi hanya digerakkan oleh mesin. Karena itu, setiap pimpinan Muhammadiyah harus menjaga kualitas spiritualnya. Shalat wajib harus terpelihara. Ibadah sunnah harus dihidupkan. Al-Qur'an harus dibaca dan dipahami. Akhlak harus dijaga. Keikhlasan harus terus dipupuk. Pengajian sebagai ruh Muhammadiyah

Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), pimpinan didorong untuk membangun kehidupan keislaman yang baik dan menjadi teladan bagi warga persyarikatan. Salah satu wujud nyatanya adalah menyelenggarakan dan mengikuti pengajian.

Pimpinan Muhammadiyah idealnya memiliki dua peran:

👉 Pertama, menyampaikan ilmu melalui pengajian.

👉 Kedua, hadir sebagai jamaah untuk mendengarkan dan menambah ilmu.

Jangan sampai seorang pimpinan hanya bersedia hadir ketika menjadi pembicara. Ketika tidak mendapat kesempatan berbicara, justru tidak terlihat dalam pengajian. Padahal, kehadiran pimpinan memiliki makna psikologis dan organisatoris yang sangat besar.

Ketika pimpinan hadir, jamaah merasa diperhatikan. Ketika pimpinan duduk bersama jamaah, tumbuh kedekatan dan keteladanan. Meskipun tidak memberikan sambutan atau ceramah, kehadirannya tetap bernilai.

Pimpinan yang hadir dalam pengajian sedang menyampaikan pesan tanpa kata-kata bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bersama. Pengajian bukan sekadar kegiatan tambahan. Pengajian merupakan salah satu sumber kekuatan spiritual, ideologis, dan sosial gerakan Muhammadiyah.

Jangan sampai Muhammadiyah mempunyai banyak gedung, tetapi semakin sedikit pengajian. Jangan sampai pimpinannya sibuk menghadiri rapat, tetapi tidak mempunyai waktu untuk duduk bersama jamaah mendengarkan ayat-ayat Allah.

5️⃣ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ 
MEMADUKAN ILMU, HIKMAH, DAN KEDALAMAN SPIRITUAL

Allah SWT menjelaskan bahwa Rasulullah mengajarkan Al-Kitab dan hikmah kepada umatnya. Artinya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang yang memiliki banyak pengetahuan. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang bijaksana dalam menggunakan ilmunya.

Dalam tradisi pemikiran Islam, dikenal tiga pendekatan epistemologis yang dapat saling melengkapi:

👉 Bayani, yaitu pendekatan yang menekankan pemahaman terhadap dalil dan teks wahyu.

👉 Burhani, yaitu pendekatan yang menggunakan akal, penalaran, bukti, dan analisis rasional.

👉 Irfani, yaitu pendekatan yang menekankan penghayatan batin, pengalaman spiritual, dan kedalaman makna.

Ketiganya perlu ditempatkan secara proporsional dalam kehidupan Muhammadiyah. Pimpinan harus memahami dalil. Pimpinan harus mampu berpikir rasional. Namun, pimpinan juga harus memiliki kepekaan hati, keikhlasan, dan kebijaksanaan.

Seseorang mungkin sangat cerdas, tetapi belum tentu bijaksana. Seseorang mungkin sangat pandai berargumentasi, tetapi belum tentu mampu menjaga perasaan orang lain. Seseorang mungkin menguasai banyak teori kepemimpinan, tetapi belum tentu mampu menjadi teladan.

Ilmu membuat seseorang mengetahui apa yang benar, sedangkan hikmah membimbingnya untuk menerapkan kebenaran secara tepat dan bijaksana. Karena itu, Muhammadiyah harus terus mengembangkan kader yang kuat secara intelektual, matang secara emosional, dan mendalam secara spiritual.

6️⃣ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ 
JANGAN BERPUTUS ASA MESKIPUN MEMULAI DARI KETERBATASAN

Bagian terakhir QS. Al-Jumu'ah ayat 2 menjelaskan bahwa sebelum memperoleh bimbingan Rasulullah  masyarakat yang menjadi sasaran dakwah berada dalam kesesatan yang nyata. Namun, melalui dakwah, pendidikan, penyucian jiwa, dan pembinaan yang berkesinambungan, terjadi perubahan besar dalam kehidupan mereka.

Pesannya sangat penting bagi perjuangan Muhammadiyah. Kondisi awal yang lemah bukan alasan untuk menyerah. Jangan berkecil hati apabila sebuah ranting hanya memiliki sedikit anggota. Jangan kehilangan semangat apabila sebuah cabang belum mempunyai amal usaha. Jangan berhenti berdakwah hanya karena dana organisasi terbatas.

Sebab, kemajuan tidak selalu dimulai dengan modal yang besar. Kemajuan sering kali dimulai dari keyakinan, keikhlasan, keberanian, dan kerja yang istiqamah. Muhammadiyah sendiri lahir dari perjuangan dakwah yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan bersama para pendukungnya. Dari gerakan yang awalnya terbatas, Muhammadiyah kemudian berkembang melintasi berbagai daerah dan generasi.

Karena itu, jangkauan dakwah harus terus diperluas. Pimpinan tidak boleh hanya menunggu masyarakat datang. Muhammadiyah harus hadir menjangkau masyarakat yang belum tersentuh pembinaan, pendidikan, dan pelayanan. Kader Muhammadiyah harus siap mengemban amanah dakwah di berbagai tempat, termasuk wilayah yang masih membutuhkan penguatan gerakan Islam berkemajuan.

Jangan mengukur masa depan organisasi hanya dari keterbatasan yang dimiliki hari ini. Sebab, dengan pertolongan Allah, keterbatasan dapat menjadi awal kebangkitan

V. REFLEKSI: ENAM PERTANYAAN UNTUK SETIAP PIMPINAN MUHAMMADIYAH

Setelah memahami enam pesan tersebut, setiap pimpinan perlu melakukan muhasabah.

Pertama: Sudahkah saya menemukan dan membangkitkan potensi organisasi yang saya pimpin?

Kedua: Apakah jabatan membuat saya semakin dekat dengan umat atau justru semakin jauh dari jamaah?

Ketiga: Apakah saya masih memiliki semangat belajar, atau merasa sudah cukup berilmu karena menjadi pimpinan?

Keempat: Apakah kesibukan organisasi membuat kualitas ibadah dan kehidupan spiritual saya semakin baik atau justru semakin menurun?

Kelima: Apakah keputusan yang saya ambil hanya didasarkan pada kecerdasan dan perhitungan, atau juga dilandasi hikmah, akhlak, dan keikhlasan?

Keenam: Apakah saya masih memiliki keberanian mengembangkan dakwah ketika menghadapi keterbatasan sumber daya?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menilai orang lain, tetapi untuk mengevaluasi diri sendiri. Sebab, sebelum memperbaiki organisasi, seorang pemimpin harus bersedia memperbaiki dirinya.
---

VI. KHATIMAH: JANGAN SAMPAI KITA BERHASIL MEMBESARKAN MUHAMMADIYAH, TETAPI GAGAL MEMBESARKAN JIWA KITA

Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan tajdid yang membutuhkan kepemimpinan yang kuat, cerdas, ikhlas, dan berakhlak.

👉 Kita membutuhkan pimpinan yang mampu membaca potensi, bukan hanya menghitung kekurangan.

👉 Kita membutuhkan pimpinan yang rendah hati, bukan yang merasa tinggi karena jabatan. Kita membutuhkan pimpinan yang terus belajar, bukan yang merasa paling mengetahui.

👉 Kita membutuhkan pimpinan yang menjaga ibadah, bukan yang hanya sibuk mengurus administrasi organisasi.

👉 Kita membutuhkan pimpinan yang memiliki hikmah, bukan hanya pandai berdebat.

👉 Dan kita membutuhkan pimpinan yang pantang menyerah, meskipun harus memulai perjuangan dari keterbatasan.

Mari kita ingat kembali pesan utama QS. Al-Jumu'ah ayat 2. Rasulullah  membangun umat melalui pembacaan ayat-ayat Allah, penyucian jiwa, dan pengajaran ilmu serta hikmah.

Inilah yang harus terus menjadi ruh perjuangan Muhammadiyah. Jangan sampai kita semakin pandai mengelola organisasi, tetapi semakin jauh dari Allah. Jangan sampai kita semakin mahir berbicara tentang dakwah, tetapi semakin jarang hadir dalam pengajian.

Jangan sampai kita semakin tinggi dalam jabatan, tetapi semakin rendah dalam keteladanan. Dan jangan sampai kita berhasil membesarkan Muhammadiyah secara kelembagaan, tetapi gagal membesarkan jiwa kita sendiri.

Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari berapa banyak program yang diselesaikan, berapa besar aset yang dikembangkan, atau berapa tinggi jabatan yang pernah diemban.

Keberhasilan kepemimpinan juga diukur dari seberapa besar manfaat yang ditinggalkan, seberapa banyak manusia yang tercerahkan, dan seberapa kuat nilai-nilai Islam yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Muhammadiyah harus maju organisasinya, kuat kadernya, hidup pengajiannya, bersih jiwanya, dan luas manfaatnya bagi umat. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keikhlasan, menguatkan langkah, dan membimbing seluruh pimpinan Muhammadiyah dalam mengemban amanah persyarikatan.

نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ

"Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat." (QS. Ash-Shaff: 13)

Fastabiqul Khairat.

وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيقِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

---

Edited by dr. MONTE
Pertemuan Koordinasi PWM Jawa Tengah
25 Oktober 2026

Sebelumnya Shalat Berjamaah : Antara Kewajiban, Anjuran, dan Uzur yang... Selanjutnya Jangan Biarkan Muhammadiyah Kehilangan Ruh Perjuangan, Ini P...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar