Oleh : Rudyspramz
Ilmu pengetahuan, riset, dan metodologi bukanlah entitas netral yang berdiri di luar iman. Dalam perspektif Islam berkemajuan, ketiganya justru merupakan bahasa Sunatullah, cara Allah menata semesta dan membuka jalan bagi manusia untuk mendekati kebenaran secara bertahap, rasional, dan bertanggung jawab. Dengan ilmu itulah ibadah tidak hanya menjadi ritual, tetapi mencapai kesempurnaan makna dan ketertiban.
Sejarah Muhammadiyah sejak awal telah menempatkan ilmu sebagai fondasi gerakan. Penggunaan ilmu falak oleh Kiai Ahmad Dahlan dalam penentuan arah kiblat bukan sekadar keputusan teknis, melainkan sikap ideologis: keberanian melawan kejumudan yang berlindung di balik tradisi. Di tengah resistensi sosial dan tuduhan “menyimpang”, Kiai Dahlan memilih berpihak pada kebenaran metodologis. Inilah titik penting yang sering dilupakan, bahwa pembaruan selalu lahir dari keteguhan intelektual, bukan dari kompromi terhadap ketidaktepatan.
Semangat itulah yang diwarisi dan dikembangkan oleh generasi Muhammadiyah berikutnya. Metode Hisab Wujudul Hilal, yang kemudian berevolusi menjadi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), adalah bukti bahwa Muhammadiyah bukan gerakan yang stagnan. Tradisi ilmiah terus berjalan, riset dikembangkan, metodologi ditertibkan, dan koreksi dilakukan secara terbuka. Kebenaran tidak diperlakukan sebagai dogma beku, melainkan sebagai hasil ikhtiar kolektif yang terus disempurnakan bahkan hingga mendekati kepastian ilmiah yang nyaris absolut.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara iman yang progresif dan iman yang defensif. Penolakan terhadap pembaruan sering kali bukan soal dalil, melainkan soal subyektivitas dan kapasitas. Ketika ilmu dipersepsikan sebagai ancaman, sesungguhnya yang terancam bukan agama, melainkan otoritas semu yang enggan diuji. Sejarah menunjukkan, setiap lompatan peradaban selalu ditentang oleh mereka yang kehilangan keberanian untuk berpikir.
Tantangan hari ini tidak hanya datang dari konservatisme keagamaan, tetapi juga dari politik yang kehilangan integritas dan hukum yang berubah menjadi alat represi. Namun kebenaran memiliki algoritmanya sendiri. Ia tidak bergantung pada kekuasaan, tidak tunduk pada tekanan, dan tidak berhenti oleh larangan. Kebenaran akan terus menemukan jalannya, dan sejarah dengan setia mencatat siapa yang konsisten memperjuangkannya.
Muhammadiyah, dengan seluruh dinamikanya, telah membuktikan bahwa Islam berkemajuan bukan slogan, melainkan kerja panjang berbasis ilmu, etika, dan kesabaran. Mereka yang hari ini menentang, besar kemungkinan suatu saat akan mengikuti, karena pada akhirnya, kebenaran tidak menunggu persetujuan, ia hanya menunggu waktu.
wallahu a'lam.

Comments
No comments yet. Be the first to comment!