MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM -MEKKAH – Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Gema Arafah bergerak cepat mematangkan strategi.
Langkah ini diambil guna mengantisipasi segala dinamika dan perubahan keputusan pengkondisian jemaah di lapangan demi menjaga kekhusyukan serta keselamatan ibadah.
Guna menyamakan persepsi, rapat koordinasi (rakor) intensif digelar di Lantai 8, Kamar 806, Hotel Number One, Mekkah. Rapat strategis ini dihadiri langsung oleh Pembimbing Ibadah (PI), Ketua Regu (Karu), serta Ketua Rombongan (Karom).
Dalam koordinasi tersebut, fokus utama pembahasan terletak pada perencanaan matang mengenai manuver-manuver lapangan yang harus dilakukan jika terjadi situasi darurat. Salah satu inovasi dan hal baru yang ditekankan pada penyelenggaraan haji tahun ini adalah penerapan skema Murur dan Tanazul yang dilakukan secara tersistem berbasis data sejak dari tanah air.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana Tanazul (memisahkan diri dari kelompok/tenda untuk kembali ke hotel) merupakan pilihan atau inisiatif individu, tahun ini skema tersebut diatur secara kelompok atau kloter yang tersistem.
Jemaah yang masuk dalam skema Tanazul tidak akan mendapatkan jatah tenda di Mina, melainkan langsung kembali ke hotel. Kendati demikian, mereka dipastikan sudah memasuki area Mina pada waktu tertentu, yakni sebelum waktu Maghrib.
Sementara itu, skema Murur disiapkan khusus untuk jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti lansia dan pengguna kursi roda. Melalui skema Murur, jemaah yang baru selesai melaksanakan wukuf di Arafah akan dibawa melintasi Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun (mabit secara singkat di dalam bus), untuk kemudian langsung menuju tenda di Mina. Skema ini telah dikaji secara syariat dan dinyatakan sah guna melindungi keselamatan jiwa jemaah yang berisiko tinggi.
Penerapan kedua skema yang tersistem ini disiapkan sebagai upaya optimalisasi penyediaan fasilitas transportasi dan layanan lainnya bagi jemaah. Mengingat ibadah haji merupakan perjalanan fisik yang menguras energi di tengah kondisi cuaca dan suhu yang menantang, kesiapan fisik yang fit dan sehat menjadi faktor krusial. Oleh karena itu, kebijakan taktis ini diambil sebagai bentuk perhatian penuh dan perlindungan terhadap jemaah haji lansia serta jemaah yang memiliki riwayat penyakit khusus.
Kontributor : Emmi
Editor : Rudyspramz
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!