OPINI 3 menit baca

Kesederhanaan yang Memajukan Warisan Nilai dari Para Tokoh Persyarikatan

Rudi Pramono 14 Mei 2026 21 views
Kesederhanaan yang Memajukan Warisan Nilai dari Para Tokoh Persyarikatan

Oleh : Rudyspramz, MPI

Tokoh atau pimpinan akan selalu menjadi sorotan publik—baik dipuji maupun dikritik. Di era media hari ini, kesederhanaan pun kadang dipertanyakan: apakah itu tulus atau sekadar pencitraan? Namun ada sosok-sosok yang justru menghadirkan keteduhan karena kesederhanaannya terasa alami, lahir dari watak dan nilai hidup yang panjang.

Sosok seperti Haedar Nashir misalnya, sering memberi kesan itu. Dalam berbagai forum ilmiah dan pidato akademik, termasuk ketika menjadi keynote speaker di Universitas Indonesia, tampak kerendahhatian yang tenang. Padahal beliau dikenal sebagai salah satu ilmuwan sosial Indonesia yang pemikirannya diperbincangkan luas. Kesederhanaannya menjadi inspirasi bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin rendah hatinya.

Dan ketika bicara tentang kesederhanaan, warga Muhammadiyah selalu teringat pada AR Fachruddin. Sosok yang begitu sederhana, bahkan hidup dari jualan bensin eceran dan tetap memakai motor tua, padahal memimpin organisasi besar dengan jaringan amal usaha yang luas. Di mata orang luar, itu tampak unik, bahkan sulit dipercaya. Namun justru di situlah letak keteladanannya, apalagi di zaman yang makin materialistis dan hedonis, figur seperti Pak AR terasa makin mahal nilainya.

Kesederhanaan dan Kemajuan: Apakah Bertentangan?

Sekilas, kesederhanaan dan kemajuan tampak seperti dua kutub yang berlawanan. Yang “maju” sering dibayangkan megah, modern, serba banyak. Sedang yang “sederhana” dianggap pas-pasan dan seadanya.

Padahal sejarah justru menunjukkan sebaliknya: banyak kemajuan besar lahir dari budaya hidup yang sederhana.

Kesederhanaan Bukan Kemiskinan, Tapi Efisiensi

Kesederhanaan bukan berarti anti kemajuan. Ia adalah kemampuan memfokuskan energi pada hal yang paling penting.

Rasulullah ﷺ membangun peradaban Madinah dengan fondasi yang sederhana: masjid, pasar, dan Piagam Madinah. Tidak mewah, tetapi kokoh membangun peradaban ilmu, ekonomi, dan politik.

Dalam ilmu pengetahuan pun demikian. Rumus-rumus besar lahir dari penyederhanaan yang mendalam. Semakin sederhana sebuah konsep, sering kali semakin luas dampaknya.

Budaya sederhana juga membuat organisasi tidak boros pada simbol dan pencitraan, sehingga tenaga dan sumber daya bisa diarahkan untuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan umat. Amal usaha Muhammadiyah tumbuh bukan karena budaya kemewahan, tetapi karena disiplin dan amanah dalam mengelola sumber daya.

Kesederhanaan Melahirkan Mentalitas Tangguh

Orang yang terbiasa hidup sederhana biasanya lebih tahan banting. Tidak mudah rapuh oleh perubahan dan keterbatasan.

Banyak gerakan besar lahir dari keadaan serba minim, tetapi punya semangat besar. Muhammadiyah pada masa awal juga tumbuh dalam keterbatasan, namun mampu mendirikan sekolah dan rumah sakit karena fokus pada kebutuhan umat, bukan pada kemegahan.

Kesederhanaan juga melatih orang untuk tidak diperbudak gengsi. Orang yang tidak sibuk menjaga citra biasanya lebih berani mencoba, gagal, lalu bangkit lagi.

Kesederhanaan Menjaga Arah Kemajuan

Kemajuan tanpa kesederhanaan mudah berubah menjadi pamer kemewahan. Gedung bisa megah, tetapi kehilangan ruh pengabdian.

Islam mengajarkan keseimbangan: tidak berlebihan, tetapi juga tidak kikir. Kemajuan seharusnya diukur dari manfaatnya bagi manusia, bukan sekadar tampilan luarnya.

Karena itu, rumah sakit, sekolah, dan pelayanan sosial dalam Muhammadiyah sejak awal dibangun bukan untuk simbol elitisme, melainkan sebagai jalan menolong sesama manusia.

Warisan Nilai yang Tetap Relevan

Sejarah selalu menunjukkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh budaya foya-foya, melainkan oleh disiplin, kerja keras, dan kesederhanaan hidup.

Kesederhanaan membuat seseorang

fokus pada tujuan, hemat dalam menggunakan sumber daya, tahan menghadapi kesulitan dan tidak mudah silau oleh kemewahan.

Sedangkan kemajuan sejati lahir dari akumulasi nilai-nilai itu dalam waktu panjang.

Karena itu, kesederhanaan dan kemajuan sebenarnya bukan lawan.
Keduanya justru saling menguatkan.

Orang yang mewah tanpa disiplin mungkin terlihat cepat maju, tetapi mudah runtuh.
Sedangkan mereka yang sederhana namun tekun dan berorientasi manfaat, sering kali membangun kemajuan yang lebih kokoh dan bertahan lama.

Sebelumnya Talent Up in Tradition: Panggung Budaya Spektakuler di Anniv... Selanjutnya Mendalami Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan dan Muhammadiya...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar