Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Pernahkah Anda merasa bahwa hampir semua orang ternyata sepakat dengan pendapat Anda? Jika iya, ada dua kemungkinan. Pertama, Anda memang seorang pemikir besar yang gagasannya diterima seluruh umat manusia. Kedua, dan ini lebih mungkin terjadi, Anda sedang tinggal di dalam sebuah "gua digital" bernama echo chamber.
Echo chamber atau ruang gema adalah kondisi ketika seseorang hanya mendengar suara yang sama berulang-ulang, sampai akhirnya mengira itulah suara seluruh dunia. Mirip orang yang bernyanyi di kamar mandi. Karena pantulan suaranya terdengar merdu, ia merasa layak ikut ajang pencarian bakat. Begitu keluar kamar mandi, kenyataan berkata lain.
Di era media sosial, ruang gema menjadi fenomena yang semakin umum. Ironisnya, kita sering merasa lebih terhubung dengan dunia, padahal sebenarnya semakin terisolasi dari keragaman pandangan. Kita mengira sedang menjelajah samudra informasi, padahal hanya berputar-putar di kolam yang sama.
Algoritma media sosial memainkan peran penting dalam menciptakan kondisi ini. Mereka bekerja seperti pelayan restoran yang terlalu rajin. Sekali Anda memesan kopi, besok disuguhkan kopi lagi. Lusa kopi lagi. Minggu depan tetap kopi. Lama-kelamaan Anda lupa bahwa di dunia ini ada teh, jus, atau air putih.
Media sosial melakukan hal serupa terhadap informasi. Jika Anda menyukai konten tertentu, algoritma akan terus menyajikan konten yang sejenis. Jika Anda menyukai pandangan politik tertentu, Anda akan dijejali opini yang memperkuat pandangan tersebut. Jika Anda percaya teori tertentu, sistem akan berusaha mencarikan "bukti-bukti" yang mendukungnya. Akibatnya, layar ponsel berubah menjadi cermin raksasa yang hanya memantulkan keyakinan kita sendiri.
Masalahnya bukan sekadar soal kenyamanan. Masalah muncul ketika ruang gema mulai menggantikan kenyataan.
Dalam ruang gema, fakta sering kalah oleh perasaan. Sebuah informasi dianggap benar bukan karena telah diverifikasi, melainkan karena disukai banyak anggota kelompok. Sebuah hoaks bisa berubah menjadi "kebenaran" hanya karena diulang ribuan kali oleh orang-orang yang sepakat.
Di sinilah kita menyaksikan lahirnya fenomena yang cukup menggelikan sekaligus mengkhawatirkan: semakin sedikit seseorang mengetahui suatu persoalan, kadang semakin besar tingkat keyakinannya.
Media sosial penuh dengan profesor dadakan. Mereka lulus dari Universitas Forward WhatsApp dan meraih gelar doktor dari Fakultas Komentar Facebook. Mereka dapat menjelaskan ekonomi global dalam tiga kalimat, menyelesaikan konflik geopolitik dalam satu unggahan, dan memberikan diagnosis medis hanya dengan melihat foto profil.
Jika ada data yang bertentangan dengan keyakinan mereka, data itu dianggap rekayasa. Jika ada ahli yang berbeda pendapat, ahli tersebut dicurigai sebagai bagian dari konspirasi. Dengan kata lain, ruang gema tidak hanya menghasilkan keyakinan, tetapi juga kekebalan terhadap koreksi.
Lebih jauh lagi, echo chamber mempercepat polarisasi sosial. Kita tidak lagi melihat orang yang berbeda pendapat sebagai sesama warga yang memiliki perspektif lain. Kita mulai melihat mereka sebagai lawan, bahkan musuh.
Perdebatan publik berubah menjadi pertandingan sepak bola. Tidak penting siapa yang benar. Yang penting tim kita menang. Fakta menjadi pemain cadangan. Emosi menjadi kapten tim.
Akibatnya, ruang diskusi menyusut. Yang tersisa hanyalah ruang sorak-sorai kelompok masing-masing. Semua orang berbicara, tetapi semakin sedikit yang mendengarkan.
Fenomena ini sesungguhnya bukan sepenuhnya kesalahan teknologi. Ada faktor manusia yang sudah ada jauh sebelum internet lahir, yaitu *bias konfirmasi*. Kita memang cenderung menyukai informasi yang membuat kita merasa benar. Menerima informasi yang bertentangan dengan keyakinan pribadi sering terasa tidak nyaman. Otak manusia ternyata tidak jauh berbeda dengan pelanggan yang selalu ingin mendengar kabar baik.
Selain itu, ada kecenderungan yang disebut homofili yaitu kecenderungan untuk berkumpul dengan orang-orang yang mirip dengan kita. Dalam kehidupan nyata maupun dunia maya, kita lebih nyaman berada di lingkungan yang sepakat dengan pandangan kita. Persoalannya, kenyamanan intelektual yang berlebihan sering kali menjadi musuh pertumbuhan pengetahuan.
Demokrasi yang sehat justru membutuhkan perbedaan pendapat. Masyarakat yang dewasa tidak dibangun dari keseragaman pikiran, melainkan dari kemampuan mengelola perbedaan secara rasional.
Karena itu, keluar dari ruang gema bukan sekadar soal memperluas wawasan, melainkan juga menjaga kesehatan demokrasi.
Caranya sebenarnya sederhana, meskipun tidak selalu mudah.
Pertama, sengaja membaca sumber informasi yang berbeda. Sesekali kunjungi media yang tidak selalu sejalan dengan pandangan Anda. Bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk memahami bagaimana orang lain melihat dunia.
Kedua, biasakan bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya percaya informasi ini karena benar, atau karena saya menyukainya?" Pertanyaan sederhana ini sering kali lebih ampuh daripada seratus debat di media sosial.
Ketiga, verifikasi fakta sebelum membagikan informasi. Tombol "bagikan" memang ringan disentuh, tetapi dampaknya bisa sangat berat jika yang disebarkan ternyata keliru.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) juga berulang kali mengingatkan bahaya kebenaran semu yang lahir dari ruang gema digital. Namun pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan kualitas ruang publik tetaplah manusia yang menggunakannya.
Mungkin tantangan terbesar abad digital bukanlah kekurangan informasi, melainkan kelebihan keyakinan. Kita hidup di zaman ketika setiap orang dapat berbicara kepada seluruh dunia, tetapi tidak semua orang bersedia mendengarkan dunia.
Karena itu, sesekali keluarlah dari gua algoritma. Dengarkan suara yang berbeda. Baca pendapat yang membuat Anda tidak nyaman. Berdebatlah dengan argumen, bukan dengan amarah.
Sebab kebenaran tidak tumbuh di ruang gema. Ia tumbuh di ruang dialog.
Dan jika suatu hari Anda menemukan bahwa semua orang selalu setuju dengan Anda, jangan buru-buru bangga. Bisa jadi Anda bukan sedang berada di tengah masyarakat yang cerdas, melainkan hanya sedang berdiri sendirian di dalam gua, berbicara kepada pantulan suara sendiri.
Tentang Penulis :
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!