MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM - Perjalanan haji bukan sekadar perpindahan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan batin yang mempertemukan manusia dengan makna terdalam tentang cinta, pengorbanan, dan kemanusiaan.
Di tengah rangkaian ibadah yang menguras tenaga, terselip kisah yang menyentuh hati dari Kloter 21. Seorang anak, Bapak Taufik Karom, dengan penuh ketulusan memijat ibunya, Ibu Asiyah, yang kelelahan. Tanpa kata-kata berlebihan, tindakan sederhana itu menjadi cermin bakti seorang anak kepada ibunya yang sepanjang hidupnya kasih ibu tak terbalaskan, namun ini adalah sedikit bakti anak dan wujud cinta yang paling nyata. Di momen itu, terasa benar bahwa ridha Allah berkelindan dengan ridha orang tua.
Sementara itu, dari Kloter 22, hadir kisah ketulusan yang tak kalah menginspirasi. Ibu Nuristijabah, satu-satunya jamaah dari Gema Arafah yang ikut dalam Kloter 22, tetap mendapatkan pendampingan penuh. Dengan dedikasi tinggi, drg. Emmi Murniyati dengan sabar mengantar dan mendampingi beliau menunaikan rangkaian umroh dan sa’i hingga tuntas, meski harus melintasi perbedaan waktu kedatangan. Kepedulian ini bukan sekadar tugas, melainkan wujud nyata ukhuwah dan empati di Tanah Suci.
Dua kisah ini menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang bagaimana manusia menghadirkan nilai-nilai luhur dalam setiap langkahnya. Bakti kepada orang tua dan kepedulian terhadap sesama menjadi pelengkap kesempurnaan ibadah menghidupkan makna bahwa haji mabrur tidak hanya tercermin dalam doa, tetapi juga dalam sikap dan tindakan.
Di antara jutaan langkah menuju Ka’bah, kisah-kisah kecil seperti inilah yang justru meninggalkan jejak besar, mengajarkan bahwa cinta, pengabdian, dan kemanusiaan adalah inti dari perjalanan suci itu sendiri.
Kontributor : Emmi
Editor : Rudyspramz
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!