MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM - MADINAH – Sebuah momen unik sekaligus menginspirasi terjadi di Masjid Quba, Madinah, bertepatan dengan momentum kepulangan jemaah haji Nafar Awal pada 12 Dzulhijjah.
Di tengah tingginya antusiasme jemaah membawa pulang buah tangan spiritual, teknologi Artificial Intelligence (AI) justru menjadi penyelamat bagi para jemaah untuk tetap bisa mengaji.
Peristiwa ini dialami oleh rombongan jemaah haji dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Gema Arafah
Kronologi "Rebutan" Al-Qur'an Terjemahan di Masjid Quba
Masjid Quba dikenal menyediakan ruang khusus yang membagikan Mushaf Al-Qur'an gratis dengan terjemahan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Namun, menjelang waktu Maghrib, stok tersebut mendadak ludes.
Kejadian Tak Terduga: Dua orang jemaah pria yang diduga berkebangsaan India mengambil sisa stok Al-Qur'an di area jemaah putri.
Ketika jemaah wanita hendak membaca Al-Qur'an, mereka mendapati kotak penyimpanan sudah kosong melompong. Setelah diperiksa, Al-Qur'an yang tersisa hanyalah versi terjemahan bahasa Mandarin, Jepang, dan bahasa India.
"Sore itu menjelang Maghrib... ketika jemaah putri mau membaca, loh kok tiba-tiba kotak-kotak tempat Mushaf Al-Qur'an sudah pada kosong? Hanya tinggal beberapa saja yang tersisa," ujar Bu Mimin, salah satu jemaah yang berada di lokasi, seperti diterangkan oleh dr emi Murni yanti dalam keterangan lesannya
SolusiGenius s: Mengaji Lintas Bahasa Lewat Aplikasi AI
Kehabisan Mushaf terjemahan bahasa Indonesia tidak membuat jemaah KBIHU Gema Arafah patah semangat. Alih-alih mengurungkan niat ibadah, mereka melakukan aksi yang dinilai sangat cerdas dan di luar ekspektasi.
Mereka tetap mengambil sisa Al-Qur'an terjemahan asing tersebut, lalu memanfaatkan aplikasi penerjemah berbasis AI di smartphone mereka.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Jemaah membuka aplikasi kamera penerjemah berbasis AI.
Kamera diarahkan langsung ke teks terjemahan bahasa Mandarin atau India pada Mushaf. Secara real-time, teknologi AI mengubah teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dipahami.
Aksi adaptif ini langsung memanen pujian di lingkungan jemaah. Kecerdasan jemaah KBIHU Gema Arafah dalam memanfaatkan teknologi di era digital terbukti mampu menembus batasan bahasa demi kelancaran ibadah di tanah suci.
Kontributor : Emi
Editor : Rudyspramz
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!