KHUTBAH 9 menit baca

TRANSFORMASI DIRI MENUJU ISLAMUL HAYAH

Rudi Pramono 17 Maret 2026 99 views
TRANSFORMASI DIRI MENUJU ISLAMUL HAYAH

TRANSFORMASI DIRI MENUJU ISLAMUL HAYAH
(Terbentuknya As-Syakhshiyyatul Islamiyatul Kamilah  
yang Gigih Membangun Ukhuwah dan Dakwah)

Burhan Isroi, M.Pd.I  

الحَمْدُ للهِ رب العالمين، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عبده ورسوله، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ. فَقَالَ الله تَعَالىٰ :يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ. اللهُ أكبر  اللهُ أكبر ، لا إلهَ إلَّا الله، واللهُ أكبر اللهُ أكبر، ولله الحَمْد

Jamaah Shalat ‘Idul Fithri  yang berbahagia

Tatkala sang surya  akhir Ramadhan tenggelam di ufuk barat, maka terdengarlah sayup-sayup  lantunan Takbir, tahmid dan tahlil menggema dari balik gagahnya lereng   sumbing – sindoro, terdengar alunannya dari kampung satu ke kampung lainnya, dari masjid satu ke masjid lainnya sarta dari mushala satu ke mushala lainnya, yang merupakan wujud ungkapan rasa syukur atas kemenangannya setelah satu bulan penuh ditempa dan digembleng  di kawah Canradimuka Ramadhan, hingga akhirnya menjadi alumni Candradimuka yang berkarakter As-Syakhshiyyatul Islamiyatul Kamilah, yaitu pribadi excellent Muhsinin-Muttaqin yang tangguh sebagai ‘Ibadurrahman paripurna yang  Rabbani  berkemajuan.  

Hasil tempaan kaderisasi pesantren Ramadhan tampak dengan terbentuknya kader-kader militan berkemajuan yang telah matang Syakhshiyyatul Islamiyatul Kamilah-nya, kader berkemajuan ini yang tersebut dengan Personality Characteristics (Syakhshiyyah Islamiyyah): kepribadian islam tauhid kamilah yang mencakup Aqliyah Islamiyyah (Pola Pikir Islam): Cara berpikir yang didasarkan pada aqidah Islam yang shahih dan sharih, dan Nafsiyah Islamiyyah (Pola Sikap Islam): Cara bersikap dan berperilaku . Transfoormasi menuju pribadi Syakhshiyyatul Islamiyatul Kamilah yang disebutkan dalam Al Qur’an:

ٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلْقَٰنِتِينَ وَٱلْمُنفِقِينَ وَٱلْمُسْتَغْفِرِينَ بِٱلْأَسْحَارِ
(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.( Qs Ali Imran ayat 17)

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ( Qs Ali Imran ayat 143)

Transformasi Tarawih Ramadhan menuju islamul hayah, akan nampak dalam waktu malam harianya dengan sedikit tidurnya (bukan sedikit-dikit tidur) untuk memanfaatkan waktu Golden Time 1/3 akhir malam menyambut kehadirtan Robnya di langit dunia. Tatajafa Junubuhum ‘anil madhaji’ (lambung orang yang bertakwa jauh dari tempat tidur)

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ
”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 1808)

كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالۡاَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُوۡنَ
“Orang bertakwa sedikit tidurnya(bukan sedikit dikit tidur) di malam hari dan menggunakan waktu sahur di akhir malam untuk memohon ampun pada Allah( Qs. Adzariat ayat 17-18).

Jamaah Shalat ‘Idul Fithri  yang berbahagia
اللهُ أكبر  اللهُ أكبر ، لا إلهَ إلَّا الله، واللهُ أكبر اللهُ أكبر، ولله الحَمْد

Setelah menjadi figur As-Syakhshiyyatul Islamiyatul Kamilah, maka janganlah sampai kita menjadi pribadi inconsistent Mutazabzib. Sebagaimana disebutakan sosok inconsistent uang bernama Roithah binti 'Amr

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan Inconsistent yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,( Qs.Annahl: 92)

Jangan sampai para alumni Ramadhan mengalami Futur Iman (Iman yang Lemah/Menurun), Demotivasi Spiritual (hilangnya motivasi atau semangat dalam melakukan aktivitas ibadah), dan Qaswatul Qalb (Kerasnya Hati) hingga Ghoflah (menjadi insan yang lalai). Ramadhan rajin ke masjid, setelah Ramadhan menjauh.
Sehingga bukti keberhasilan pendidikan Ramadhan akan terlihat dengan terinternalisasinya amalan Ramadhan /tertransfortasi pada kehidupan Islamul Hayah (praktek kedidupan sehari-hari). Tahajut akan terus berlanjut, begitu pula qiroatul qur’annya, infak sedekahnya, gemar menolongnya, dan menjauhi perbuatan munkar seperti tidak suka menghina suatu kaum atau golongan. Ramadhan saat berpuasa kita dilatih untuk tidak mencela, tidak mencaci, tidak mengghibah dan tidak dibenarkan menghina. Ramadhan mengajarkan sifat kesejukan sang ‘ibadurrahman dan Ramadhan juga membangkitkan tauhid sosial dan kebersamaan serta mendidik tidak agar menyukai perpecahan (‘adamut-tafaruq). Ramadhan menjadi ajang nyata menguatkan ikatan hati (taliful qulub)  melalui 5 T: Ta'aruf, Tafahum, Ta'awu, Takaful (Saling Memberi Rasa Aman membangun persaudaraan (bina’ul ukhuwwah) dan sikap Tasamuh (toleransi)’

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS. 49:10)

Rasulullah SAW melarag sifat saling dengki dan saling menghina

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ.
“Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina.(HR. Muslim 2564)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu organisasi mengolok-olok merendahkan organisasi yang lain, boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula ssekelompok organisasi perempuan mengolok-olok kelompok lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan panggil-memanggil dengan panggilan yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim.(Qs Al Hujurat: 11)


Jamaah Shalat ‘Idul Fithri  yang berbahagia
اللهُ أكبر  اللهُ أكبر ، لا إلهَ إلَّا الله، واللهُ أكبر اللهُ أكبر، ولله الحَمْد

Selain tentang ukhuwah, kita semua selepas idul fithri punya PR besar, yaitu perjuangan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang sangat serius menhadapi gempuran Ghozwul Fikri/ Invasi Aqidah melalui 10 F -nya: Fashion, Fun, Food, Foundation, Song, Cinema, School, Sex, Sport, dan Social Media. Semuanya media itu bertujuan untuk Al-Riddah (Penumbangan Aqidah): Target utama ghazwul fikri adalah membuat umat Islam murtad secara halus, baik murtad secara akidah (menjadi atheis/agnostik/pemuja sinkretisme) atau murtad secara amaliyah (tidak menganggap syariat penting).

Serangan Ghazwul Fikri ke jantung generasi muda terasa sangat dahsyat, dilakukan secara systemic dan terpola. Serangan mematikan Ifsadul Akhlak: Perusakan akhlak dan moral, Tahzhim al-Fikrah: Penghancuran pemikiran Islam yang lurus, digantikan dengan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), Idzabah al-Syakhsiyyah: Melunturkan kepribadian dan karakter khas Muslim,  Al-Riddah: Penumbangan aqidah yang bisa mengarah pada kemurtadan dan  Al-wala lil kafirin: Menggeser loyalitas umat dari Islam kepada paham-paham selain Islam.

Beberapa merk invasi agama adalah Liberalisme: Mengagungkan kebebasan individu yang bertentangan dengan syariat, Sekularisme: Memisahkan agama dari urusan negara, politik, dan sosial, Pluralisme Agama: Pemahaman yang menyamakan semua agama, Westernisasi (Taghrib): Mengikuti gaya hidup, budaya, dan tren Barat secara membabi buta, dan Invasi Tauhid Sinkretisme: pencampuran tauhid dan tahayul khurofat kesyirikan.
 
Dahsyatnya beragam gempuran tersebut Rasulullah ﷺ telah mengingatkannya :

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا”. فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ “بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ. “فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ : “حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ” 
[Hampir-hampir musuh-musuh Islam siap memangsa kalian seperti orang-orang rakus yang mengerubuti makanan dalam tempayan.” Salah seorang sahabat ada yang bertanya, “Apakah waktu itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian saat itu sangatlah banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Dan Allah akan sungguh akan mengangkat dari dada musuh-musuh kalian akan rasa rakut dan Allah akan memasukkan kedalah hati kalian penyakit wahn”. Dan sahabat bertanya lagi “Apakah wahn itu, wahai Rasulullah.?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian”. ( Abu Daud Sulaiman Bin al-Asy’ats al-Sijistani, Sunan Abi Daūd, (Beirut : Dār al-Kitab al-‘Araby, tt ), Juz 4, 184). (Ahmad bin Hanbal al-Syaibani, Musnad al-Imām bin Hanbal, ( Kairo, Mu’assah Qarṭbah, tt), Juz 2 , 539. No Hadits : 8698).

Jamaah Shalat ‘Idul Fithri  yang berbahagia
اللهُ أكبر  اللهُ أكبر ، لا إلهَ إلَّا الله، واللهُ أكبر اللهُ أكبر، ولله الحَمْد
Potret generasi kita dikatakan oleh Rasulullah ﷺ akan ngintil (bertasyabuh/meniru) mereka sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dalam istilah saudara Minang Seketek-seketek. Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
“Kehancuran umat Islam tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Al Bukhari no. 7319). 
Rasulullah ﷺ  juga bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Jamaah Shalat ‘Idul Fithri  yang berbahagia
Sebagai orang tua tentu akan khawatir terhadap gempuran Ghozwul fikri yang menghantam generasi mudanya, diantara pengaruhnya nampak menjadi generasi idha’u al-Shalah (Menyia-nyiakan Shalat), Tasyahun atau Sahun (Lalai terhadap Shalat), Kasal/ Kusala  (Malas Beribadah), dan  Istikhfaf (Meremehkan Shalat). Bila dakwah kita tidak memperhatikan generasi penerus, maka suatu saat masjid megah dengan menara mewah, tapi isinya sedikit bahkan tidak nampak generasi mudanya, kemana generasi mudanya…?

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.s. An-Nisa’: 9)

Generasi Adha’u as Shalah diingatkan dalam QS. Maryam ayat 59:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan”
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali” [An-Nisa/4 : 142]

Bukankah masa sekarang ini sudah betul-betul nyata…? Bahwa generasi kita mengalami Struk Ruhiyahnya. Nampak kuat, kokoh dan kekar bentuk fisik jasmaninya, tangguh dalam menundukkan sumbing sindoro, bahkan lautan mampu diseberanginya dan jauhnya jalan bisa digayuh dengan sepedannya, tapi masjid yang berjarak 20 meter terlewatkan tidak punya kemampuan untuk menggerakkan kakinya menuju masjid. Suara adzan dari Toa yang keras tidak bisa terdengar, akan tetapi musik Sound horeg yang jaraknya jauh, terdengar jelas dan mampu mendatanginya.


اللهُ أكبر  اللهُ أكبر ، لا إلهَ إلَّا الله، واللهُ أكبر اللهُ أكبر، ولله الحَمْد
Jamaah Shalat ‘Idul Fithri  yang berbahagia

Selanjutnya yang terakhir khotib berpesan untuk kaum muslimah, Pertama, dimana Rasulullah ﷺ bersabda,

اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاء
“Aku diperlihatkan di surga, Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum fakir. Lalu aku diperlihatkan neraka. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.” (HR. Al Bukhari, no. 3241 dan Muslim, no. 2737)

Kedua. Bahwa Ghozwul Fikri menghancurkan marwah muslimah shalihah melalui fashion, Rasulullah ﷺbersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mengajak orang lain untuk tidak taat, dirinya sendiri jauh dari ketaatan, kepalanya seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Ketiga, Maraknya sekarang tentang perselingkuhan dan perceraian dini yang dimulai dari gugatan sang istri dengan tanpa ada alasan syar’I,  Rasulullah ﷺ  bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
“Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.” (HR. Abu Daud, no. 2226; Tirmidzi, no. 1187; dan Ibnu Majah, no. 2055. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

اللهُ أكبر اللهُ أكبر ، لا إلهَ إلَّا الله، واللهُ أكبر اللهُ أكبر، ولله الحَمْد
Jamaah Shalat ‘Idul Fithri  yang berbahagia

Akhirnya mari kita terus istiqomah untuk melakukan Internalisasi Ramadhan pada amalan aplikatif yaumiyah. Menjadi ‘ibadurrohman yang salaman-salaman, menjaga shalat malamnya dan pribadi rabbani yang senantiasa al Unsu bil Qur’an (senantiasa akrab dengan al qur’an) dengan cara Qiroatuhu (membacanya), tadarosuhu (mentadaruskannya), hifdzuhu (menjaganya) dan ‘amaluhu (mengamalkannya). Jaga aqidah keluarga kita dari Ghozwul fikri dan sinkretisme, jaga eksistensi ibadah kita dan bombing  akhlak  generasi kita. Terus berdoa untuk generasi-generasi kita

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ 
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, terimalah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan orang-orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan" (QS Ibrahim 40-41)

Hadirin yang berbahagia, khotib mengingatkan kita bersama, mari jangan lupa sunnah Rasulullah di bulan Syawal, yaitu kita laksanakan puasa syawal 6 hari. Amalan ini adalah amalan masyru’ muttaba’ah yang berdasar dalil shahih dan rajih.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ  الراوي : أبو أيوب الأنصاري | المحدث : ابن الملقن | المصدر : خلاصة البدر المنير | الصفحة أو الرقم : 1/336| التخريج : أخرجه الطبراني (4/136) (3912) واللفظ له، وأخرجه مسلم (1164)
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”(HR. At Thabrani 4/136 dan Muslim 1164)

Akhirnya mari kita panjatkan doa pada Allah Ta’ala.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ أَعْمَلَنَا فِي رَمَضَانَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Sebelumnya Jika Engkau Tidak Menemukan Lailatul Qadar, Maka Biarlah Dia... Selanjutnya Besaran Zakat Fitrah 2026 untuk Diri Sendiri & Keluarga, ser...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar