OPINI 4 menit baca

Refleksi HUT ke-81 RI: Peran Muhammadiyah dalam Perjuangan dan Kemerdekaan Republik Indonesia

Rudi Pramono 17 Agustus 2026 19 views
Refleksi HUT ke-81 RI: Peran Muhammadiyah dalam Perjuangan dan Kemerdekaan Republik Indonesia

Drs. H. Nurbini, M.Si., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang.

Republik ini tidak lahir dari ruang hampa, dan penjajah tidak pernah memberikan kemerdekaan secara cuma-cuma. Di balik 81 tahun tegaknya NKRI yang kita syukuri pada momen HUT ke-81 RI hari ini, organisasi keagamaan memberikan kontribusi tak terbantahkan yang tak boleh luput dari ingatan zaman. Membicarakan sejarah kemerdekaan Indonesia tanpa menyertakan peran Muhammadiyah dalam kemerdekaan RI ibarat membaca buku bangsa yang kehilangan bab paling utamanya. 

Mari kita bedah rekam jejaknya; tentang bagaimana persyarikatan ini memegang “saham” besar dalam mendirikan, merebut, hingga mempertahankan Republik.

Sejak K.H. Ahmad Dahlan mendirikan persyarikatan ini pada tahun 1912, Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga berkontribusi membangun karakter bangsa, mencerdaskan masyarakat, dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Melalui jaringan sekolah, madrasah, organisasi kepanduan, serta gerakan sosialnya, Muhammadiyah sukses menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kesadaran keislaman sekaligus kecintaan terhadap Tanah Air.

Pada awal abad ke-20, bangsa Indonesia masih menghadapi penjajahan Belanda. Dalam situasi tersebut, catatan sejarah kemerdekaan Indonesia merekam kehadiran Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pembaruan) untuk membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan melalui pendidikan modern serta gerakan sosial. Muhammadiyah merancang sistem pendidikan yang mengajarkan ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan umum dan semangat kebangsaan.

Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah, lahir generasi terdidik yang memiliki kesadaran nasional. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi modal penting bagi munculnya gerakan kemerdekaan Indonesia. 

Dengan demikian, Muhammadiyah memberikan kontribusi yang tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga melalui proses pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan masyarakat Indonesia.

Keterlibatan Tokoh Muhammadiyah dalam Persiapan Kemerdekaan

Kita bisa melihat kontribusi persyarikatan secara lebih jelas menjelang kemerdekaan Indonesia. Sejumlah tokoh Muhammadiyah berpartisipasi langsung dalam berbagai lembaga persiapan kemerdekaan, di antaranya adalah:

1. K.H. Mas Mansur

K.H. Mas Mansur merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah yang memegang peran sebagai anggota “Empat Serangkai” bersama Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Melalui posisinya tersebut, Mas Mansur turut membangun kesadaran masyarakat serta merintis jalan menuju kemerdekaan Indonesia.

2. Ki Bagus Hadikusumo

Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memainkan peran sangat penting dalam proses perumusan dasar negara. Sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), ia aktif memberikan gagasan mengenai dasar negara dan konstitusi Indonesia. Ia memberikan pengaruh besar dalam pembahasan Piagam Jakarta dan Pembukaan UUD 1945. Publik juga mengenal figur ini sebagai tokoh yang selalu mengedepankan persatuan bangsa demi mewujudkan negara Indonesia merdeka.

3. Prof. Abdul Kahar Muzakkir

Prof. Abdul Kahar Muzakkir mewakili tokoh Muhammadiyah yang berkiprah dalam BPUPKI dan Panitia Sembilan. Bersama tokoh-tokoh bangsa lainnya, ia merumuskan dasar-dasar negara dan arah pembangunan bangsa Indonesia yang merdeka.

4. Kasman Singodimedjo

Kasman Singodimedjo memegang kendali penting dalam proses konsolidasi nasional menjelang dan sesudah proklamasi kemerdekaan. Ia memimpin pengamanan jalannya proklamasi dan membangun konsensus nasional untuk menjaga persatuan Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.

Peran Muhammadiyah dalam Perumusan Dasar Negara

Sejarah kemerdekaan Indonesia mencatat keterlibatan Muhammadiyah dalam perumusan dasar negara sebagai salah satu kontribusi terbesar persyarikatan. Tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Muzakkir, dan Kasman Singodimedjo berpartisipasi aktif di panggung BPUPKI dan PPKI.

Dalam proses tersebut, para tokoh Muhammadiyah menunjukkan sikap kenegarawanan yang tinggi. Ketika perdebatan mengenai Piagam Jakarta dan rumusan sila pertama Pancasila memanas, tokoh-tokoh Muhammadiyah memilih untuk mengedepankan persatuan nasional. Sikap ini membuktikan bahwa Muhammadiyah sejak awal memandang keutuhan bangsa sebagai amanah yang wajib semua pihak jaga bersama.

Menggerakkan Pasukan Mempertahankan Kemerdekaan RI

Perjuangan Muhammadiyah terus berlanjut setelah Soekarno-Hatta mengumandangkan proklamasi. Ketika Belanda berusaha menjajah kembali Indonesia melalui agresi militer, persyarikatan ini langsung turun gunung mempertahankan kemerdekaan RI.

Di Yogyakarta, para ulama dan tokoh Muhammadiyah membentuk Angkatan Perang Sabil (APS) untuk melawan pasukan Belanda. Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Hadjid, K.H. Mahfudh, dan figur lainnya menggerakkan kekuatan rakyat guna mempertahankan kedaulatan negara.

Sejarah juga mencatat Jenderal Soedirman sebagai kader Muhammadiyah paling ikonik dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. Sebelum menjabat Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI), Soedirman mematangkan karakternya dalam Hizbul Wathan, organisasi kepanduan Muhammadiyah.

Muhammadiyah menanamkan semangat kepemimpinan, disiplin, dan cinta Tanah Air yang kemudian menjadi bekal penting Soedirman saat memimpin perang gerilya melawan penjajah.

Komitmen Merawat Kemerdekaan dan Kebinekaan

Langkah Muhammadiyah dalam perjuangan kemerdekaan membuktikan bahwa Islam dan nasionalisme bisa berjalan beriringan. Muhammadiyah sukses memadukan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan guna mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka.

Kini, persyarikatan meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut melalui dedikasi tanpa henti pada jalur pendidikan sebagai pilar utama pembangunan bangsa.

Muhammadiyah mengiringi ikhtiar ini dengan gerakan dakwah kultural yang mencerahkan dan memajukan peradaban masyarakat. Lebih dari itu, persyarikatan ini secara konsisten merawat semangat persatuan dan toleransi di tengah kebinekaan.

Langkah ini menjadi bentuk pengabdian tulus kepada umat, bangsa, dan negara berlandaskan komitmen kuat terhadap penegakan keadilan, pelestarian kemerdekaan, serta perwujudan kesejahteraan sosial secara merata. Muhammadiyah terus menjaga nilai-nilai substantif ini sebagai warisan penting dalam perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini.

Sebagai konklusi pada momen perayaan hari ini, kita dapat menegaskan kembali betapa esensial dan strategisnya peran Muhammadiyah dalam kemerdekaan RI. Kita bisa melihat kontribusi tersebut melalui keterlibatan para tokohnya dalam proses persiapan kemerdekaan, perumusan dasar negara, hingga perjuangan fisik di medan perang.

Muhammadiyah juga melakukan usaha kultural secara konsisten untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sejak masa penjajahan. Melalui pendidikan, dakwah, gerakan sosial, dan pengabdian kebangsaan, Muhammadiyah menorehkan sumbangan besar bagi lahir dan tegaknya Indonesia. Jejak perjuangan tersebut membuktikan status Muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil yang menopang dan merawat kedaulatan di usia HUT ke-81 RI ini

Sumber : www.MuhammadiyahKotaSemarang

Sebelumnya Harmoni Syariat dan Akal: Mengurai Kebijaksanaan Tersembunyi...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar