rudyspramz, MPI
Lebih dari satu abad lalu, Muhammadiyah lahir bukan hanya sebagai gerakan dakwah, tapi sebagai jawaban nyata atas ketimpangan sosial yang mencekik bangsa dalam cengkeraman kolonialisme. Ketika keadilan menjadi barang mewah, Muhammadiyah hadir dengan semangat QS Al-Ma’un—membumikan agama dalam aksi nyata.
Kelahirannya adalah respons terhadap penderitaan umat: kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Namun, Muhammadiyah tidak hanya mengutuk kegelapan, ia menyalakan pelita. Pendidikan dimodernisasi, kesehatan dirasionalisasi, dan layanan sosial dikelola secara profesional, pemberdayaan ekonomi, advokasi kebijakan dan bantuan kemanusiaan. Semua dilakukan demi satu tujuan: mencerdaskan, menyehatkan, dan memanusiakan manusia.
Muhammadiyah tidak pernah memisahkan antara ibadah dan kerja sosial. Dari mushola ke rumah sakit, dari madrasah ke panti asuhan, semua amal usaha adalah pengejawantahan dari tauhid sosial yang kokoh. Di sinilah Muhammadiyah menunjukkan bahwa keberagamaan sejati adalah keberagamaan yang membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan merawat nilai kemanusiaan.
Kini, di tengah derasnya arus materialisme, ketimpangan yang makin tajam, dan politik yang kerap abai terhadap rakyat, Muhammadiyah tetap teguh pada jalan perjuangannya. Bukan dalam arena politik praktis, tapi melalui gerakan pencerahan dan kaderisasi umat yang kuat. Muhammadiyah memahami, bahwa perubahan besar selalu dimulai dari akar: pendidikan, pelayanan, dan keteladanan.
Perjalanan panjang ini adalah warisan yang tak boleh tercerabut dari akar historisnya. Spirit Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) bukan sekadar nama, tapi panggilan suci untuk terus hadir di tengah umat—mendengar, merangkul, dan bergerak.
Mari terus warisi semangat KH Ahmad Dahlan dan para pendiri, menjaga nyala idealisme dan aksi nyata. Sebab Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, tapi gerakan nilai yang menyatu dengan denyut nadi umat dan bangsa.
Wallahu a'lam bish shawab.

Comments
No comments yet. Be the first to comment!