Home > Article > Category > OPINI

Duka, Doa, dan Kesadaran Ilmu: Refleksi atas Musibah Ponpes Al Khoziny

Duka, Doa, dan Kesadaran Ilmu: Refleksi atas Musibah Ponpes Al Khoziny

rudyspramz, MPI

Musibah runtuhnya bangunan tiga lantai di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, yang menelan puluhan korban jiwa dan melukai ratusan santri, mengguncang nurani kita semua. Di balik kepedihan yang dalam, terselip kisah-kisah heroik dan spiritual yang menggugah—santri yang bersholawat di bawah timbunan beton, mereka yang wafat dalam keadaan bersujud, hingga tim medis yang harus mengambil keputusan sulit demi menyelamatkan nyawa.

Dalam suasana duka yang pekat, tanggapan netizen pun beragam. Ada yang menunjukkan empati tulus, namun tidak sedikit pula yang tergesa menilai dan menghakimi. Dalam situasi seperti ini, empati adalah hal pertama dan utama yang harus dikedepankan—bukan hanya sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, tapi juga sebagai refleksi nilai-nilai agama yang kita junjung.

Di sisi lain, musibah ini memberi kita pelajaran penting tentang pentingnya ilmu amaliyah dan amal ilmiyah. Dua istilah ini bukan sekadar jargon di tubuh Muhammadiyah, tetapi sebuah napas gerakan yang menjembatani antara nilai keagamaan yang luhur dengan keilmuan modern yang aplikatif. Di tengah pesatnya pembangunan fisik pesantren, pendekatan berbasis ilmu teknik, perencanaan matang, dan standar keselamatan menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar.

Kita paham, banyak pesantren tradisional tumbuh dengan kecepatan pembangunan yang melebihi kapasitas awal perencanaannya. Ini bukan soal menyalahkan takdir, melainkan bagaimana kita menjadikan takdir sebagai titik balik kesadaran kolektif. Bahwa ikhtiar maksimal dengan ilmu dan profesionalitas adalah bagian dari bentuk tawakal itu sendiri.

Tragedi ini mengingatkan kita untuk terus membangun sinergi antara tradisi keilmuan klasik dan ilmu pengetahuan modern, sebagaimana cita-cita Islam berkemajuan. Di titik ini, lahirlah harapan: bahwa dari reruntuhan duka, akan bangkit generasi santri yang tak hanya faqih dalam agama, tapi juga tangguh dalam membangun peradaban dengan ilmu, riset, dan inovasi.

Semoga para korban wafat dalam husnul khotimah, dan yang luka-luka segera diberi kesembuhan. Dan semoga dari musibah ini, lahir kesadaran baru di dunia pendidikan Islam: bahwa keimanan yang kokoh harus berpijak di atas bangunan ilmu yang kuat.

Wallahu a'lam

Comments

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Reply