oleh : Rudyspramz, MPI
Ada nuansa yang semakin terasa di Muhammadiyah Jawa Tengah belakangan ini: hadirnya pendekatan budaya dalam dakwah. Momentum ini semakin menguat setelah Ketua PWM Jawa Tengah, Ustadz Tafsir, menerima penghargaan dari Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya dakwah melalui jalur budaya.
Dari penampilan peserta Pesantren Ramadhan MPKSDI PWM Jateng terutama model kopiah yang dipakai, sepertinya ada simbol ada pesan, ada nuansa budaya yang ingin dibangun di lingkungan Muhammadiyah, menjadi menarik karena justru berada di Majelis Ideologis seperti Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), mulai tampak kesadaran bahwa dakwah tidak hanya hadir melalui mimbar, sekolah, rumah sakit, atau lembaga sosial, tetapi juga dapat tumbuh melalui sentuhan budaya.
Tentu saja, pendekatan ini bukan berarti meninggalkan prinsip pemurnian Islam yang menjadi ruh Muhammadiyah. Sebaliknya, dakwah kultural justru menjadi cara untuk menghadirkan Islam yang ramah, membumi, dan mampu berdialog dengan realitas sosial masyarakat, selama tetap berada dalam koridor manhaj tarjih Muhammadiyah.
Dakwah melalui budaya bisa menjadi terobosan penting. Kesenian, tradisi kebaikan, dan ekspresi budaya masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas jangkauan dakwah Islam berkemajuan. Ketika nilai-nilai Islam hadir dalam ruang budaya, pesan dakwah sering kali lebih mudah diterima, karena berbicara dengan bahasa yang akrab bagi masyarakat.
Selama ini Muhammadiyah dikenal kuat melalui pelembagaan amal usaha—pendidikan, kesehatan, dan sosial—yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Kini, dakwah Muhammadiyah juga merambah sektor ekonomi sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian umat. Dalam konteks yang sama, dakwah kultural menjadi dimensi baru yang melengkapi ikhtiar tersebut.
Perlu ditegaskan, langkah ini bukan upaya meniru tradisi dakwah kelompok lain. Muhammadiyah justru sedang berusaha menciptakan budaya baru—budaya yang menumbuhkan nilai-nilai kebaikan, kemajuan, dan keislaman yang mencerahkan.
Dakwah kultural menuntut pemahaman yang lebih dalam terhadap psikologi masyarakat. Dengan memahami cara masyarakat berpikir, merasakan, dan mengekspresikan nilai-nilai hidupnya, dakwah Muhammadiyah dapat hadir lebih luas, lebih diterima, dan lebih berdampak.
Pada akhirnya, dakwah kultural adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa Muhammadiyah tetap relevan dengan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya. Sebuah jalan dakwah yang ramah budaya, namun tetap teguh pada prinsip—membawa pesan Islam yang mencerahkan, memajukan, dan menebarkan kemaslahatan bagi semua.
Jika dakwah struktural membangun lembaga, maka dakwah kultural membangun jiwa masyarakat. Dan ketika keduanya berjalan beriringan, di situlah Islam berkemajuan menemukan jalannya. ✨
Dalam sejarah aksi pionir telah dirintis Sang Pendiri Muhammadiyah sebagai gerakan yang membawa misi pemurnian tidak tampak ada konfrontasi dengan budaya lokal keraton yg sinkretis terbukti beliau tetap menjadi Khatib Keraton, basis nilai historis ini menjadi inspirasi dakwah bagi kader, tidak melawan "ruang tradisi" tapi menciptakan tradisi budaya baru dalam praktek dakwah dan pengamalan Islam
Dalam praktek relatif sudah dilaksanakan dengan beragam kreatifitas, karena itu menjadi diskursus yang perlu di sepakati dalam Manhaj Tarjih dan diinstitusionalisasikan sehingga menjadi pedoman yang sama bagi seluruh warga Persyarikatan terutama dalam acara2 terkait siklus kehidupan (kelahiran, pernikahan, kematian)
Wallahu a'lam

Comments
No comments yet. Be the first to comment!