MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM - MAGELANG - Dalam suasana Wisata Dakwah 'Aisyiyah se Karesidenan Kedu Raya yang hangat dan penuh semangat kebersamaan, tausiyah yang disampaikan oleh Abdul Mukti menghadirkan pesan mendalam tentang makna berorganisasi, kedermawanan, serta peran strategis perempuan dalam menjaga keberlanjutan peradaban.
Beliau mengingatkan bahwa organisasi bukan sekadar wadah aktivitas, tetapi ruang bertumbuh yang menguatkan energi, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
"Dari sanalah lahir semangat untuk terus berbagi, karena kedermawanan sejatinya adalah DNA yang melekat dalam setiap gerak langkah warga persyarikatan. Bahkan, beliau mengajak seluruh peserta untuk tidak berhenti pada wacana, tetapi mewujudkannya melalui aksi nyata, seperti penggalangan dana bagi sesama yang membutuhkan." ujarnya
Lebih jauh ia menyinggung tema Wisdak tentang perempuan berkemajuan ditegaskan sebagai panggilan zaman.
"Perempuan tidak lagi dipandang terbatas pada ranah domestik, tetapi didorong untuk menjadi pribadi yang beriman kuat sekaligus profesional dalam berbagai bidang. Landasan ini sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS. An-Nahl ayat 97, bahwa setiap manusia, laki-laki maupun perempuan - memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kehidupan yang baik melalui iman dan amal saleh." tegasnya
Dalam refleksi yang lebih dalam, Prof Abdul Mu'ti menyoroti pentingnya institusi keluarga di tengah tantangan zaman.
"Fenomena menurunnya angka pernikahan dan kecenderungan menjauh dari nilai-nilai keluarga menjadi peringatan serius. Di sinilah peran ibu menjadi sangat vital—sebagai pendidik pertama dan utama dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan berakar kuat pada nilai-nilai agama." katanya
"Konsep “anak hebat” pun tidak lahir secara instan. Ia dibangun dari kebiasaan sederhana namun konsisten: bangun pagi, beribadah, disiplin, hingga menjaga pola makan yang sehat. Semua itu tidak lepas dari pendampingan seorang ibu yang hadir dengan kasih sayang dan keteladanan" tambahnya
Perempuan berkemajuan, sebagaimana ditegaskan, memiliki ciri utama: keimanan yang kokoh, amal yang bermanfaat, dan profesionalitas dalam setiap peran. Ia bukan hanya hadir untuk dirinya sendiri, tetapi memberi dampak luas bagi keluarga, masyarakat, bahkan bangsa, setiap langkahnya bernilai ibadah, setiap karyanya membawa kebermanfaatan."
Di akhir tausiyah, Prof Abdul Mu'ti mengingatkan dua ancaman besar yang perlu diwaspadai bersama.
"Pertama, degenerasi nasabiah, ketika manusia enggan melanjutkan keturunan, yang berpotensi menimbulkan krisis sosial dan demografis. Kedua, degenerasi diniah, terputusnya nilai-nilai keagamaan pada generasi muda, yang semakin menjauh dari spiritualitas" Pungkasnya .
Pesan ini menjadi renungan penting: bahwa membangun peradaban tidak cukup hanya dengan kemajuan teknologi atau ekonomi, tetapi harus ditopang oleh keluarga yang kuat, generasi yang beriman, serta perempuan-perempuan berkemajuan yang menjadi pilar utama perubahan.
Kontributor / Editor : Rudyspramz
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!