Home > Article > Category > OPINI

Kyai Dahlan yang Terus Hidup: Ideologi PKO dan Jalan Kemanusiaan Muhammadiyah

Kyai Dahlan yang Terus Hidup: Ideologi PKO dan Jalan Kemanusiaan Muhammadiyah

oleh : Rudyspramz, MPI

Kyai Ahmad Dahlan tidak memulai gerakannya dari mimbar yang tinggi, tetapi dari air mata manusia. Ia membaca pembiaran kemiskinan, ketersakitan, dan ketercerabutan sosial bukan sebagai takdir yang harus diterima, melainkan sebagai pengkhianatan terhadap iman.

Karena bagi Kyai Dahlan, Al-Qur’an bukan kitab yang berhenti di lidah, tetapi harus menjelma menjadi tangan yang menolong dan kaki yang melangkah ke tempat paling sunyi dari perhatian.

Pada masa ketika umat Islam masih sibuk merawat simbol, justru kaum Nasrani dan orang-orang Belanda hadir lebih dahulu di tengah penderitaan rakyat dengan rumah sakit, suster, dan dokter toeloeng. 

Kyai Dahlan tidak tersinggung, tidak defensif, tidak terjebak sentimen identitas. Ia belajar. Ia menunduk. Ia lalu bertanya kepada Al-Qur’an dan QS. Al-Ma’un menjawab dengan keras: agama yang tidak membela mustadh’afin adalah kebohongan.

Maka lahirlah Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Bukan sekadar nama, tetapi ideologi gerakan. Sebuah sikap keberagamaan yang berpihak, yang menolak netral di hadapan penderitaan. PKO adalah pernyataan tegas bahwa Muhammadiyah tidak boleh berdiri di luar luka manusia.

Seiring perjalanan waktu, Muhammadiyah tumbuh besar dan dikenal karena puritanismenya. Ia menjadi magnet, menjadi arus utama. Namun di balik kemajuan itu, kita patut jujur bertanya: apakah kita masih cukup dekat dengan kaum dhuafa? Ataukah kemajuan justru menciptakan jarak (jarak biaya, jarak akses, jarak empati) ?

Di sinilah LRB/MDMC dan Majelis-majelis Kemanusiaan berdiri sebagai penjaga nurani Muhammadiyah. Mereka adalah metamorfosa PKO wajah baru dari ruh lama. Jika dulu PKO hadir sebagai rumah sakit dan rumah miskin, hari ini ia hadir di tengah reruntuhan gempa, banjir, longsor, dan duka yang tak sempat difoto.

Relawan LRB/MDMC bukan hanya pekerja kemanusiaan. Mereka adalah kader ideologis Penolong Kesengsaraan Oemoem. Relawan toeloeng yang memilih hadir ketika yang lain pergi. Yang tidak menimbang suku, agama, atau golongan, karena bagi mereka penderitaan tidak pernah bertanya identitas.

Di tangan para relawan itulah Kyai Dahlan terus hidup, sebagai Kyai Dahlan Muda. Ia hadir dalam rompi lapangan yang lusuh, dalam doa yang lirih di pos pengungsian, dalam tangan yang gemetar mengevakuasi korban. Inilah Al-Ma’un yang bergerak. Inilah tafsir Qur’an yang bernapas.

Sebagaimana dikatakan Hilman Latief, Kyai Dahlan adalah tokoh dengan afeksi yang kuat. Dan Al-Qur’an memang hanya bisa dipikul oleh mereka yang berpikir dalam dan berani menanggung konsekuensi. Maka menjaga ideologi PKO bukan romantisme sejarah, melainkan tanggung jawab zaman.

Selama masih ada kesengsaraan umum, Muhammadiyah tidak boleh menjadi penonton. Dan selama masih ada relawan yang memilih menolong, “Kyai Dahlan belum wafat”.

wallahu a'lam

Comments

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Reply