OPINI 3 menit baca

Ketika Keyakinan Menjadi Jalan : Jejak Kepemimpinan Pak Sholeh Yahya yang Menghidupkan Harapan

Rudi Pramono 21 Mei 2026 177 views

Oleh : Rudyspramz, MPI

Ada satu kisah yang terus terngiang ketika saya menelusuri sejarah Muhammadiyah di Wonosobo. Kisah itu datang dari penuturan panjang Pak Sholeh sebuah potongan hidup yang sederhana, tetapi sarat makna dan keberanian.

Di suatu masa, ketika beliau masih bekerja di Pertamina, dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah : mengikuti kebijakan atasan yang tidak sejalan dengan hati nurani, atau melepaskan kenyamanan yang sudah digenggam gaji mapan, masa depan yang tampak pasti. Pilihan yang bagi banyak orang mungkin akan ditunda, dinegosiasikan, atau bahkan dikompromikan.

Namun Pak Sholeh memilih jalan yang berbeda. Ia memilih keluar !

Bukan karena tidak mampu bertahan, tetapi karena ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang lebih penting: kejujuran pada hati nurani. Keputusan itu tentu tidak ringan. Ada ketidakpastian, ada kekhawatiran, tetapi di atas semua itu ada keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan langkah yang diambil karena kebenaran dan yakin bahwa Allah akan mengganti dengan karunia yang lebih besar.

Dan keyakinan itu tidak berujung sia-sia. Allah benar-benar menggantinya dengan jalan yang lebih luas. Beliau kemudian menapaki dunia usaha, menjadi pedagang, dan justru menemukan kesuksesan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun kisah Pak Sholeh tidak berhenti pada keberhasilan pribadi.

Justru yang lebih besar adalah jejak perjuangan beliau di Muhammadiyah, khususnya saat memimpin PDM Wonosobo, 2 Periode '(2005-2015). Di sana, kepemimpinan beliau diuji bukan hanya oleh gagasan, tetapi oleh realitas : keterbatasan, keraguan, dan tantangan yang bertahun-tahun seolah tak menemukan jalan keluar.

Tanah wakaf dari KH Teguh Ridwan, yang di atasnya berdiri RB Siti Fatimah, telah lama ada, tetapi belum berkembang sebagaimana yang diharapkan. Berbagai wacana muncul dari Akper, Akbid, dan ketika gagasan RS muncul dan hitungan dana yang dibutuhkan pembicaraan langsung terhenti terkait kemampuan dana.

Seakan ada tembok besar yang tidak terlihat, tetapi dirasakan oleh semua.

Di titik itulah kepemimpinan Pak Sholeh menemukan maknanya.

Dengan ketegasan dan keyakinan yang kuat, beliau mengajak semua untuk tidak berhenti pada hitungan manusia semata. Bahwa ada dimensi lain yang sering terlupakan : rahmat Allah yang tak terbatas. Keputusan pun diambil mendirikan rumah sakit.

Sebuah keputusan yang pada awalnya mungkin terasa “melampaui” kemampuan. Tetapi justru di situlah letak keberanian iman: melangkah, meski perhitungan belum sepenuhnya berpihak.

Dan sejarah pun  mencatat ternyata bukan hanya soal dana tapi tantangan eksternal yang berat kurang ada dukungan pemerintah saat itu dan isu negatif di masyarakat namun akhirnya semua bisa dilampaui apa yang dahulu terasa berat dan mustahil, kini berdiri nyata. RS PKU Muhammadiyah Wonosobo hadir megah, berkembang cepat, memberikan pelayanan terbaik bahkan melampaui banyak ekspektasi. Apa yang dulu diperkirakan membutuhkan waktu sangat lama, ternyata bisa terwujud dalam tempo yang jauh lebih singkat.

Semua itu bukan semata soal manajemen atau strategi, tetapi tentang kepemimpinan yang berakar pada keyakinan. Kepemimpinan yang tidak hanya menggerakkan manusia, tetapi juga mengundang pertolongan Allah.

Hari ini, Kamis, 21 Mei 2026 beliau telah berpulang.

Namun sejatinya, orang-orang seperti Pak Sholeh tidak pernah benar-benar pergi. Jejak langkahnya masih hidup dalam amal, dalam institusi yang beliau bangun, dan dalam nilai-nilai yang beliau wariskan.

Dari beliau, kita belajar bahwa keberanian terbesar bukan hanya mengambil keputusan sulit, tetapi tetap yakin ketika jalan belum terlihat jelas. Bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar mengatur, tetapi menyalakan harapan. Dan bahwa ketika hati bersandar penuh kepada Allah, keterbatasan bisa berubah menjadi kekuatan.

Semoga segala amal beliau diterima, segala khilaf diampuni, dan beliau dipanggil dalam keadaan husnul khotimah.

Dan semoga kita yang ditinggalkan, tidak hanya mengenang tetapi melanjutkan.❤️💪🏽

Sebelumnya Stikesmu Wonosobo Wisuda 23 Sarjana Farmasi, Bupati Afif Dor... Selanjutnya Lebih dari Sekadar Fasilitas, Survei Lokasi Armuzna Dorong K...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar