Oleh : Ani Jumrotun
Alumni Sekolah Tabligh PWM Jateng Angkatan 2
Mengingat pengalaman berharga yang memalukan kurang lebih 14 tahun yang lalu
Saya pernah merasa sangat gugup, gemetar, berdebar, pikiran tiba-tiba jadi kosong, saat diminta untuk berpamitan dengan anak-anak sekolah, saat saya mengundurkan diri sebagai staf di sebuah lembaga pendidikan.
Sebagai persiapan, saya sudah menulis beberapa halaman teks perpisahan, setelah berdiri didepan para guru dan karyawan sekaligus anak-anak yang berbaris rapi dihalaman sekolah layaknya upacara, benar saja.. Saya tak bisa mengutarakan apa maksud saya berdiri disana, pikiran saya melayang, badan saya gemetar, lutut lemas, dada berdegup kencang, akhirnya entah apa yang saya katakan.
Pengalaman kedua, saat mulai masuk di tempat kerja baru, saya juga diminta mengenalkan diri di depan teman-teman kantor, dan pada saat itu saya juga mengulangi kesalahan yang sama, tak bisa berkata-kata banyak, hanya menyebutkan nama, tempat tinggal, status lajang saya dan saya tutup dengan permohonan maaf karena tidak bisa berbicara di depan umum sembari menunjukkan gestur tubuh yang sama sekali tidak percaya diri.
Namun berawal dari pengalaman itulah saya mulai menggunakan jatah gagal saya dalam berbicara di depan umum.
Mulailah saya melatih keberanian itu di organisasi, dan tetap masih melakukan kesalahan-kesalahan yang sama dalam berbicara, namun satu kesimpulan baru muncul dalam pikiran saya, "ternyata rasa malu itu tidak membunuh saya, Ia hanya melukai ego saya." Hehe
Dan sedikit demi sedikit saya mulai berdamai dengan kekurangan saya :
- Saya tidak pandai, tapi saya bisa belajar.
- Saya tidak percaya diri, tapi saya bisa melatih diri.
- Saya tidak punya banyak pengalaman, tapi saya bisa membuatnya
Sejak saat itu, Saya mulai menciptakan pengalaman-pengalaman baru. Berulang kali Saya memendam rasa bersalah karena perkataan yang kurang sempurna, dihantui pikiran kacau karena kesalahan-kesalahan yang Saya buat saat berbicara didepan umum.
Akhirnya banyak sekali Allah kasih kesempatan Saya untuk belajar, sehingga sedikit-demi sedikit kesalahan-kesalahan itu bertransformasi menjadi ide dan improvisasi.
Teman-teman, mulailah berbicara, bukan karena kita berani tapi karena kita ingin bertumbuh. Kemampuan berbicara itu bukan bawaan lahir, ia adalah hasil dari keberanian untuk terus bertumbuh meski berkali-kali gagal.
Saya pernah salah ucap, pernah kehilangan alur, pernah merasa tidak didengar.
Tapi setiap kali selesai berbicara, saya tidak lagi berkata, “Ya Allah, kenapa saya tadi bilang begitu ya?", tapi “Alhamdulillah, terimakasih ya Alldah sudah diberi kesempatan untuk belajar.”
Dan lama kelamaan, tubuh yang dulu gemetar, mulai stabil. Suara yang dulu kecil, "ndredeg" mulai mantap. Pikiran yang dulu kosong melayang, mulai terstruktur. Bukan satu, dua kali praktek langsung jadi, butuh puluhan kali bahkan ratusan kali dulu, untuk kemudian bisa sedikit lebih tenang dalam berbicara didepan umum, dan sampai sekarang bahkan sampai kapanpun saya masih akan terus belajar, karena kita ini manusia, tidak mungkin tidak melakukan kesalahan.
Teman-teman, kita tidak pernah benar-benar gagal. Kita hanya sedang belajar dengan cara yang tidak nyaman.
Ilmu tidak akan masuk ke hati yang merasa sudah sampai, teruslah belajar, teruslah bertumbuh, karena setiap rasa malu, setiap gemetar, setiap salah ucap itu bukan akhir perjalanan, Itu tanda kita sedang naik level.
Bahkan nanti akan ada fasenya kita memilih untuk tidak berbicara, bukan lagi karena takut tapi justru karena benar-benar hanya ingin belajar, sudah tidak ingin lagi dianggap pintar, sudah tidak ingin lagi dinilai, karena memang tidak semua yang kita tahu harus dibicarakan, dan tidak semua perbedaan harus kita tanggapi.
Orang-orang suffah di masa Rasulullah, bukan orang yang sibuk tampil. Mereka duduk, menyimak, menyerap, membersihkan jiwa.
Ilmunya dalam bukan karena banyak bicara,
tetapi karena banyak mendengar.
Ada level dimana bicara adalah keberanian dan ada pula level dimana diam adalah kematangan.
Jangan acuhkan orang yang berbicara, tapi jangan juga remehkan orang yang diam menyimak, hati-hati keduanya punya kekuatan.

Comments
Luar biasa..., pengalaman Ustadzah yang sangat dan sangat berharga bagi kita semua.. salah, bukan ahir segalanya, tapi awal dari hidup lebih berharga..
Jazakumullah Khairan katsiro ustadzah sudah berbagi pengalamannya dan menginspirasi saya,🙏