Home > Article > Category > OPINI

Setara dalam Hirarki : Rasionalitas, Tajdid, dan Dinamika Kaum Muda Muhammadiyah

Setara dalam Hirarki : Rasionalitas, Tajdid, dan Dinamika Kaum Muda Muhammadiyah

Oleh : Rudyspramz, MPI

Relasi sosial dalam Muhammadiyah sejak awal dibangun di atas fondasi kesetaraan dan rasionalitas. Meskipun memiliki struktur organisasi yang jelas dan hirarkis, hubungan antarkader tidak mengandung nuansa feodalistik atau praktik tabarruk dalam pemahaman tradisional.

Penghormatan kepada senior tetap dijaga sebagai adab dan etika, namun tidak menempatkan seseorang sebagai figur yang sakral secara spiritual. Dalam konteks ini, mencium tangan senior bukanlah ritual pencarian berkah, melainkan simbol penghormatan terhadap budaya dan etika. Ciri ini menegaskan Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang menempatkan rasionalitas sebagai landasan gerak. Penghargaan diberikan kepada prestasi, kontribusi, dan kapasitas keilmuan, bukan pada garis keturunan. Prinsip kasab (usaha dan karya) lebih diutamakan daripada nasab (garis keturunan), sehingga terbuka ruang meritokrasi yang sehat. Dalam ekosistem seperti ini, ilmu pengetahuan tidak hanya diterima, tetapi menjadi instrumen utama dalam pembaruan dan pencerahan umat.

Perbedaan-perbedaan pandangan yang muncul di tubuh umat Islam, termasuk di dalam Muhammadiyah, sesungguhnya merupakan konsekuensi dari perbedaan nilai tradisi yang dibangun dan diwariskan. Ada tradisi yang tetap bertahan dengan pola feodal dan mistis, sementara sebagian generasi muda melakukan rasionalisasi dan dekonstruksi nilai. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang melompat terlalu jauh hingga berpotensi kehilangan akar tradisi dan identitas. 

Sejarah menunjukkan bahwa setiap tradisi akan mengalami seleksi alam pada zamanya yang relevan akan bertahan, yang tidak adaptif akan perlahan memudar. Di kalangan kaum muda Muhammadiyah sendiri, dinamika ini terlihat jelas. Relasi tetap terjaga setara dan rasional, namun orientasi pemikiran berkembang beragam: ada yang kokoh dalam puritanisme yang cenderung konservatif, ada yang bergerak progresif bahkan mendekati liberal. Variasi ini bukanlah anomali, melainkan konsekuensi logis dari karakter Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pembaruan). Tajdid membuka ruang ijtihad dan membaca ulang terhadap kenyataan, sehingga spektrum pemikiran menjadi luas dan dinamis. 

Namun Muhammadiyah tidak pernah kehilangan kompas ideologisnya. Penegasan terhadap Islam wasathiyah : keisIaman yang moderat, berkeadilan, dan berkemajuan, menjadi jangkar yang menjaga keseimbangan antara purifikasi dan progresivitas. 

Rujukan pada Manhaj Tarjih, Khittah perjuangan, serta pedoman kaderisasi seperti ‘Kitab Kuning’ RIB (Risalah Islam Berkemajuan) berfungsi sebagai fondasi epistemik agar dinamika pembaruan tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam berkemajuan : Keislaman yang murni dan dinamis. 

Dengan demikian, relasi yang setara dalam Muhammadiyah bukan sekadar etika organisasi, melainkan wujud dari pandangan dunia yang rasional, terbuka, dan berkemajuan. Tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara akar tradisi dan keberanian keberanian, antara purifikasi dan inklusivitas, antara loyalitas ideologi dan keterbukaan intelektual. 

Di situlah letak kedewasaan gerakan: mampu bergerak maju tanpa tercerabut dari akar, dan mampu menjaga akar tanpa kehilangan daya hidup untuk menjawab zaman.

wallahu a'lam

Comments

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Reply