KABAR 6 menit baca

In Memoriam: Ust. Mi’raj Mustajib (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Wonosobo) Mengenang Kiprah, Merawat Warisan Ilmu, dan Melanjutkan Jejak Dakwah

Rudi Pramono 01 November 2026 234 views
In Memoriam: Ust. Mi’raj Mustajib (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Wonosobo) Mengenang Kiprah, Merawat Warisan Ilmu, dan Melanjutkan Jejak Dakwah

“Seorang pejuang dakwah boleh berpulang, tetapi ilmu yang diwariskan, keteladanan yang ditinggalkan, dan kebaikan yang ditanamkan akan terus menemukan jalan untuk hidup dalam ingatan dan amal umat.”

Kepergian Ust. Mi’raj Mustajib bukan sekadar kehilangan seorang ulama.

Bagi masyarakat Wonosobo, khususnya keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah, berpulangnya beliau merupakan kehilangan sosok yang selama ini turut merawat tradisi keilmuan, membimbing pemahaman keagamaan, dan menghidupkan dakwah di tengah masyarakat.

Ada orang-orang yang kehadirannya terasa melalui jabatan yang diemban. Namun, ada pula yang jejaknya jauh melampaui jabatan itu sendiri. Mereka dikenang bukan semata-mata karena posisi yang pernah ditempati, melainkan karena ilmu yang dibagikan, nasihat yang disampaikan, serta kesediaan untuk terus berkhidmat bagi umat.

Ust. Mi’raj Mustajib adalah sosok yang kiprah dan pengabdiannya patut dikenang dalam semangat tersebut. Sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonosobo, beliau mengemban amanah yang tidak sederhana.

Majelis Tarjih dan Tajdid bukan hanya ruang untuk membahas persoalan fikih, melainkan juga tempat merawat tradisi berpikir keislaman yang bertumpu pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, kejernihan nalar, serta tanggung jawab moral dalam membimbing kehidupan umat.

Di dalam amanah itu, terdapat kebutuhan untuk menghadirkan pemahaman agama yang tidak berhenti pada penjelasan hukum, tetapi juga memberi arah, ketenangan, dan pencerahan. Sebab, agama tidak semestinya hanya hadir sebagai kumpulan jawaban atas persoalan, tetapi juga menjadi sumber kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Merawat Tradisi Ilmu, Menuntun Umat dengan Keteguhan

Ketua Majelis Tarjih bukan sekadar pemegang amanah organisasi. Ia berada di tengah kebutuhan umat akan penjelasan keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama ketika persoalan kehidupan terus berkembang dan menuntut pemahaman yang semakin mendalam.

Dalam ruang pengabdian itulah, kiprah Ust. Mi’raj Mustajib menjadi bagian dari perjalanan dakwah Muhammadiyah di Wonosobo. Melalui kajian dan penyampaian persoalan fikih, beliau turut merawat ikhtiar untuk menghadirkan Islam yang mencerahkan, membumi, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.
Ketarjihan mengajarkan bahwa beragama membutuhkan ilmu, ketelitian, dan kerendahan hati.

Perbedaan tidak harus melahirkan pertentangan, sementara keteguhan pada prinsip tidak boleh menghilangkan kebijaksanaan. Ilmu menuntun seseorang untuk memahami, bukan sekadar menghakimi; menjelaskan, bukan memperkeruh; serta membimbing, bukan merasa paling benar sendiri.

Nilai-nilai itulah yang membuat pengabdian seorang ulama memiliki arti lebih luas daripada sekadar aktivitas menyampaikan ceramah. Ia ikut membangun cara berpikir, membentuk sikap keberagamaan, dan menumbuhkan kedewasaan umat dalam menyikapi persoalan.

Dari Mimbar Masjid hingga Gelombang Radio

Dakwah memiliki banyak jalan. Ada yang disampaikan melalui mimbar masjid, ada yang tumbuh dalam forum kajian, dan ada pula yang menembus batas ruang melalui gelombang radio.

Ust. Mi’raj Mustajib termasuk sosok yang kiprah dakwahnya menjangkau ruang-ruang tersebut. Melalui program kajian fikih di Radio Purnamasidi FM, termasuk Kajian Tarjih Leluasa dengan pembahasan seputar Ramadan dan fikih, beliau turut menghadirkan pengetahuan agama ke tengah kehidupan masyarakat. Radio menjadi jembatan yang memungkinkan pesan dakwah menjangkau pendengar di rumah, tempat kerja, maupun pelosok desa.

Di tengah masyarakat yang memiliki beragam akses terhadap sumber pengetahuan, dakwah melalui radio memiliki arti tersendiri. Suara yang disampaikan dari ruang siaran dapat menemani perjalanan, menyela kesibukan, dan membuka ruang perenungan bagi mereka yang mungkin tidak selalu dapat hadir secara langsung di majelis ilmu.

Sementara itu, melalui Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al-Arqom Wonosobo, beliau turut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga keberlangsungan tradisi belajar agama di tengah masyarakat.

Masjid bukan hanya tempat menunaikan ibadah, melainkan juga ruang untuk menumbuhkan kesadaran, memperdalam pengetahuan, dan memperkuat hubungan antarsesama. Kajian yang berlangsung secara rutin mengajarkan bahwa keberagamaan tidak cukup dibangun melalui semangat sesaat. Ia memerlukan proses, ketekunan, dan kesediaan untuk terus belajar.

Dari masjid hingga radio, dari perjumpaan langsung hingga jangkauan suara, terdapat satu benang merah: dakwah adalah ikhtiar menghadirkan ilmu agar kehidupan menjadi lebih baik.

Dan ketika seorang pendakwah berpulang, kita pun diajak merenungkan kembali arti dari setiap ilmu yang pernah disampaikan dan setiap kesempatan yang pernah digunakan untuk berbuat kebaikan.

Ketika Raga Berpulang, Ilmu Menemukan Jalan Panjang

Kematian selalu menghadirkan kesadaran bahwa kehidupan manusia memiliki batas. Jabatan akan berakhir, aktivitas akan berhenti, dan suara yang dahulu akrab didengar suatu saat tidak lagi hadir di tengah kita.

Namun, apakah pengabdian juga berakhir ketika seseorang berpulang ? Tidak selalu demikian.

Ada ilmu yang terus dipelajari setelah pengajarnya tiada. Ada nasihat yang kembali diingat ketika seseorang menghadapi persoalan. Ada kebiasaan baik yang diteruskan oleh orang-orang yang pernah menyaksikan keteladanannya. Ada pula nilai perjuangan yang tumbuh menjadi kesadaran bersama dan menggerakkan generasi berikutnya. Di situlah makna warisan seorang ulama menemukan kedalamannya.

Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah Yasin ayat 12 bahwa Allah mencatat apa yang telah dikerjakan manusia dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan. Ayat ini mengajak kita memahami bahwa kehidupan tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan hari ini, tetapi juga dengan pengaruh kebaikan yang terus berjalan setelahnya.

Dalam tradisi Islam, ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim tentang tiga perkara yang tidak terputus ketika manusia wafat.

Karena itu, mengenang Ust. Mi’raj Mustajib semestinya tidak berhenti pada ungkapan duka dan penghormatan.

Kenangan itu perlu diterjemahkan menjadi kesediaan untuk melanjutkan ikhtiar keilmuan, menghidupkan majelis kajian, merawat tradisi ketarjihan, serta menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan menenteramkan. Sebab, penghormatan paling bermakna kepada seorang pengabdi ilmu bukan hanya menyebut namanya, melainkan menjaga agar nilai-nilai kebaikan yang diperjuangkannya tetap hidup.

Melanjutkan Estafet Dakwah

Kepergian seorang tokoh sering kali menyisakan pertanyaan bagi mereka yang ditinggalkan: siapa yang akan meneruskan pengabdiannya?

Pertanyaan itu penting, tetapi tidak seharusnya dijawab hanya dengan mencari sosok pengganti. Lebih dari itu, kita perlu memastikan bahwa nilai, tradisi, dan semangat yang selama ini diperjuangkan tetap memperoleh ruang untuk tumbuh.

Bagi Muhammadiyah Wonosobo, kepergian Ust. Mi’raj Mustajib menjadi momentum untuk semakin menguatkan tradisi keilmuan dan dakwah. Majelis Tarjih perlu terus menjadi ruang pengkajian yang mendalam, terbuka terhadap persoalan zaman, serta bertanggung jawab dalam memberikan pencerahan kepada umat.

Majelis-majelis ilmu perlu tetap hidup.

Dakwah melalui berbagai media perlu terus dikembangkan. Kader-kader perlu diberi kesempatan untuk belajar, bertanya, mengkaji, dan melanjutkan estafet pengabdian.

Sebab, gerakan yang kuat bukanlah gerakan yang bergantung pada satu orang, melainkan gerakan yang mampu menumbuhkan banyak orang untuk meneruskan nilai dan cita-cita bersama.

Dalam semangat Islam Berkemajuan, ilmu tidak boleh berhenti pada diri orang yang memilikinya. Ilmu harus ditransformasikan menjadi amal, amal melahirkan kemanfaatan, dan kemanfaatan menjadi jalan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat.

Maka, kepergian seorang ulama hendaknya tidak membuat dakwah kehilangan arah. Justru dari kehilangan itulah, kesadaran untuk merawat ilmu, memperkuat persyarikatan, dan memperluas kemanfaatan bagi umat semestinya semakin tumbuh.

Selamat Jalan, Ust. Mi’raj Mustajib
Pada akhirnya, setiap manusia akan meninggalkan dunia dengan membawa amalnya masing-masing. Kita tidak pernah mengetahui secara pasti bagaimana kedudukan seseorang di hadapan Allah. Namun, kita dapat mengambil pelajaran dari jejak kebaikan yang pernah dihadirkannya dan menjadikannya inspirasi untuk memperbaiki diri.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT melimpahkan kesabaran, ketabahan, dan kekuatan. Kepada sahabat, jamaah, serta keluarga besar Muhammadiyah Wonosobo, semoga duka ini menjadi pengingat akan pentingnya meneruskan pengabdian dengan hati yang ikhlas dan langkah yang teguh.

Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima amal salehnya, melapangkan kuburnya, menerangi alam barzakhnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga ilmu dan kebaikan yang telah beliau ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala.

Selamat jalan, Ust. Mi’raj Mustajib.
Raga boleh berpulang, tetapi ilmu tidak seharusnya ikut terkubur. Suara boleh berhenti, tetapi pesan kebaikan dapat terus bergema. Pengabdian boleh sampai pada batasnya, tetapi semangat dakwah harus tetap menyala.

Sebab, seorang pengabdi ilmu tidak hanya meninggalkan kenangan tentang dirinya. Ia juga meninggalkan tanggung jawab bagi mereka yang masih hidup: menjaga ilmu, meneruskan kebaikan, dan memastikan bahwa dakwah tetap menjadi jalan untuk mencerdaskan, mencerahkan, serta memuliakan kehidupan umat.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga Allah merahmati beliau dan menerima seluruh amal kebaikannya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Kontributor/Editor : Lutfi/Rudyspramz

Sebelumnya Musyda XXII PD IPM Wonosobo Resmi Dibuka, Lahirkan Nahkoda B...
Komentar

Aamiin allahumma aamiin.. Satu satunya guru kami yang ilmunya tidak mudah kita fahami karena kefakiran dan keterbatasan ilmu kami, khususnya dalam bahasa Arab, Semoga selepas kepergian beliau, Muhammadiyah lebih banyak melahirkan ulama dan pendakwah layaknya baliau

Beliau sangat luas ilmunya, rajin menyampaikan ilmu sederhana sampai bingung menyampaikan terlalu baik dalam segala sisi semoga SDH bersama dg orang Soleh luas terang dalam kuburnya,diampuni kesalahan diterima semua amal Solehnya,,kami merasa sangat kehilangan,,,,,,SDH istirahat dg tenang bismillah lahaulawa kuatailla billah

Tinggalkan Komentar