KABAR 2 menit baca

Filosofi Tarwiyah-Arafah-Nahar : Cara Nabi Ibrahim Ambil Keputusan Besar Tanpa Sesal

Rudi Pramono 27 Mei 2026 30 views
Filosofi Tarwiyah-Arafah-Nahar : Cara Nabi Ibrahim Ambil Keputusan Besar Tanpa Sesal

MUHAMMADIYAHWONOSOBO.COM - ​SEMARANG — Sebuah keputusan besar pantang dieksekusi tanpa proses berpikir maksimal dan keyakinan bulat. Prinsip kuno Nabi Ibrahim AS terbukti mampu membedah tuntas anatomi pengambilan keputusan modern yang aman dari penyesalan seumur hidup.

​Rahasia metode pengambilan keputusan yang akurat ini dikupas tuntas oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH. Tafsir, dalam khutbah Iduladha di halaman Masjid Ukhuwah Islamiyah, Banyumanik, Semarang, Rabu (27/5/2026).

Di hadapan ratusan jemaah, ia membongkar rumus tiga fase sakral: Tarwiyah, Arafah, dan Nahar.
​"Bahwa sesuatu sebelum kita eksekusi harus kita mulai tahapan Tarwiyah dan Arafah. Memikirkan sampai betul-betul Menyakini, baru tahap berikutnya adalah Nahar, yakni melaksanakan" ujar KH Tafsir.

Anatomi Pengambilan Keputusan: Dari Ragu ke Yakin dan Laksanakan

Menurut KH Tafsir, keraguan bukanlah musuh, melainkan instrumen penting pada tahap awal dalam memikirkan sebuah permasalahan. Manusia modern wajib mengelola keraguan secara rasional dan memikirkan konsekuensi setiap pilihan secara komprehensif agar terhindar dari tindakan sembrono.

Berikut adalah tiga tahapan manajemen keputusan berdasarkan esensi ritual Idul adha:

Tahapan 1 : Tarwiyah
Makna Filosofis : Memikirkan / Merenungkan
Implementasi Kehidupan Modern : Menganalisis risiko, menimbang konsekuensi, dan mengelola keraguan secara rasional.

Tahapan 2 : Arafah 
Makna Filosofis : Meyakini / Mengetahui 
Implementasi Hidup Modern : Mengubah hasil pemikiran matang menjadi keyakinan bulat setelah indikator kebenaran terpenuhi.

Tahapan 3 : Nahar
Makna Filosofis : Mengeksekusi / Menyembelih
Implementasi Hidup Modern : Mengambil tindakan nyata (action) tanpa ragu setelah melewati fase berpikir dan yakin.

Sebagaimana dilansir dalam media PWM Jateng KH Tafsir mengatakan bahwa setelah kita pertimbangkan, kita pikirkan, bahkan kita ragukan,namun karena (petunjuk) datang terus-menerus, maka level berikutnya adalah meyakini. Setelah yakin bahwa ini adalah sesuatu yang benar, maka lakukan tahapan yang ketiga, yakni eksekusi. 

​Belajar dari Teladan Eksekusi Tingkat Tinggi Nabi Ibrahim

​Konsep ini dinilai sangat relevan untuk memecahkan problematika hidup manusia modern. Kesabaran dan ketaatan membutuhkan landasan pikiran yang tajam agar tidak memicu kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain.

Nabi Ibrahim AS telah mencontohkan bagaimana mengeksekusi perintah dengan risiko paling luar biasa di dunia. Sang Nabi tidak langsung gegabah menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, pada hari pertama beliau menerima mimpi. Ada proses pertimbangan berlapis dan diskusi dialogis yang berujung pada keyakinan utuh.

Pentingnya Validasi: Mimpi seorang Nabi adalah wahyu, namun Nabi Ibrahim tetap melakukan proses tarwiyah (berpikir/merenung) untuk memastikan validitas pesan ilahi tersebut.

​Komunikasi Dua Arah: Melibatkan objek keputusan (Nabi Ismail) untuk mencapai kesepahaman dan keyakinan bersama (arafah).

​Bebas dari Penyesalan: Eksekusi (nahar) yang dilakukan setelah fase berpikir dan yakin terbukti membuahkan pertolongan Allah dan kebaikan abadi.

​"Tidak begitu mudah kita mengeksekusi tanpa melalui pemikiran dan keyakinan yang mendalam, yang komprehensif," tambah KH Tafsir.

​Rumus tiga tahap inilah yang menjamin kelancaran sebuah keputusan besar. Masyarakat masa kini wajib menerapkan prinsip Tarwiyah dan Arafah secara ketat sebelum mereka berani "menekan tombol eksekusi" dalam kehidupan nyata, baik dalam ranah personal, bisnis, maupun karier.

Kontributor/editor : rudyspramz

Sebelumnya Shalat Idul Adha PDM Wonosobo di Alun-Alun: Khotbah Menggeta... Selanjutnya Idul Adha 1447 H : PCM Wonosobo Sembelih 11 Sapi dan 46 Kamb...
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tinggalkan Komentar