Oleh : Rudyspramz, MPI
Sepak bola sering dianggap sebagai olahraga yang tidak masuk akal. Di atas lapangan hijau, logika statistik dan prediksi para ahli kerap runtuh seketika. Kita melihat bagaimana bola yang bundar itu seolah punya kehendak sendiri; ia bisa melambung, memantul, atau masuk ke gawang dengan cara yang tak terduga.
Bagi banyak orang, ini adalah drama yang membuat frustrasi, namun bagi mereka yang merenung, ini adalah panggung ketauhidan yang nyata.
Paradoks Sang Legenda: Ketika Usaha Tak Selalu Berujung Piala
Lihatlah sosok seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau Neymar. Secara teknis, fisik, dan jam terbang, apa yang kurang dari mereka?
Mereka adalah definisi dari dedikasi profesional isme dan perfeksionisme. Mereka telah membawa klub-klubnya ke puncak kejayaan dunia, memecahkan rekor demi rekor.
Namun, sejarah mencatat bahwa takdir untuk mengangkat trofi Piala Dunia bagi negaranya tidak selalu mudah bahkan Ronaldo tidak mampu sekalipun mempersembahkan Piala Dunia ke negaranya Portugal, sebuah ironi tapi fakta.
Di titik inilah rasionalitas manusia modern sering kali bergejolak. Apakah ada kesadaran atau justru marah, kecewa, atau menyesal ketika hasil tidak sesuai dengan ekspektasi.
Ekosistem juga mendikte kita bahwa "benda"berupa piala, medali, dan angka adalah satu-satunya ukuran kebanggaan dan kesuksesan
Menyelaraskan Ikhtiar dan Ketauhidan
Islam mengajarkan cara pandang yang lebih menenangkan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Najm: 39:
"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
Ayat ini adalah pengingat bahwa tugas utama manusia adalah pada ranah ikhtiar. Hasil akhir adalah wewenang mutlak Allah.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila ia mengerjakan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (totalitas, tekun, dan sempurna)." (HR. Thabrani).
Sering kali, kita merasa sudah berjuang, padahal usaha kita mungkin baru mencapai 60%. Kita cepat menyerah saat menemui hambatan, lalu menyalahkan keadaan ketika hasil tak sesuai harapan. Padahal, Allah tidak menilai seberapa banyak piala yang kita kumpulkan, melainkan seberapa itqan : totalitas proses yang kita jalani.
Sepak Bola sebagai Syifa (Obat Kedamaian)
Sepak bola sebenarnya adalah "obat" bagi manusia modern yang terlalu mengagungkan rasionalitas sekuler. Ia menyadarkan kita bahwa di atas segala taktik pelatih dan keahlian pemain, ada kekuasaan besar yang mengatur segalanya, dititik inilah substansi Ketauhidan.
Ketika kita menempatkan usaha sebagai bentuk ibadah bukan sekadar alat untuk meraih pengakuan maka kita akan menemukan kedamaian yang sesungguhnya. Jika menang, kita bersyukur atas karunia-Nya. Jika kalah, kita tidak hancur karena kita tahu bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh medali, melainkan oleh keteguhan hati dalam berusaha.
Jadikanlah hasil akhir sebagai hak prerogatif Allah, sementara itqan dalam bekerja adalah hak prerogatif kita sebagai hamba. Piala dan medali hanyalah simbol, namun "usaha maksimal" yang diridai-Nya adalah tujuan utama yang akan membawa ketenangan jiwa.
Di balik lapangan yang luas dan sorak-sorai penonton, sepak bola mengajarkan kita satu hal besar: Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Dan di dalam ketetapan-Nya itulah, tersimpan keadilan yang paling sempurna bagi setiap hamba yang sungguh-sungguh berusaha.
Christiano Ronaldo mengatakan : saya sudah memberikan semuanya 1000 % dia telah mendapatkan ketenangan, kekuatan dan kedamaian dan itu selaras dengan ajaran Islam meski bukan muslim.
wallahu a'lam
Komentar
Semoga generasi PSHW kita menjadi PSHW Yang berdedikasi tinggi,teknis bermain yg berilmu dan bermutu ,serta jadi pemain² sepak bola yg handal dan beriman.