Oleh : Rudyspramz, MPI
Sejarah selalu mencatat bahwa penderitaan rakyat bukan sekadar peristiwa sosial, tetapi titik balik peradaban. Ketika seorang anak di NTT memilih mengakhiri hidupnya hanya karena pensil seharga sepuluh ribu rupiah yang tak mampu dibeli orang tuanya, dan ketika seorang pengemudi ojol di Batam wafat dalam posisi menggenggam stang motor di lampu merah—itu bukan sekadar kabar duka. Itu adalah cermin retak dari wajah keadilan sosial kita.
Dalam lintasan sejarah dunia, ketimpangan yang dibiarkan berlarut-larut melahirkan perlawanan. Di Rusia, kemiskinan struktural dan ketidakadilan melahirkan Revolusi 1917 yang kemudian melahirkan sosialisme dan komunisme—sebuah ideologi yang tumbuh sebagai antitesis terhadap agama yang dianggap beku dan tidak berpihak pada kaum papa. Di berbagai negeri terjajah, termasuk Indonesia, penderitaan rakyat menjadi energi perlawanan terhadap kolonialisme. Bahkan di Nepal, ketimpangan sosial dan politik pernah mengguncang tatanan kekuasaan hingga mengubah wajah negara.
Pesannya jelas: kekuasaan yang tidak berpihak pada nilai kemanusiaan tidak akan pernah benar-benar selamat.
Namun Islam datang bukan untuk membekukan realitas dalam debat teologi yang kering. Islam hadir sebagai rahmat yang membumi. Surah Al-Ma’un bukan sekadar ayat yang dibaca dalam shalat, tetapi kritik keras terhadap orang yang mendustakan agama yaitu mereka yang mengabaikan anak yatim dan tidak peduli pada orang miskin. Surah Al-‘Asr bukan hanya pengingat tentang waktu, tetapi seruan kolektif untuk beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, artinya ajakan untuk maju menguasai ilmu dan mencerahkan kehidupan. Di sinilah relevansi gerakan Muhammadiyah menemukan momentumnya kembali.
Sejak awal, Muhammadiyah tidak lahir dari romantisme kekuasaan, tetapi dari kegelisahan sosial. Teologi Al-Ma’un yang diwariskan Ahmad Dahlan adalah revolusi sunyi-menggeser perdebatan kalam klasik yang teosentris menjadi praksis kemanusiaan yang membebaskan. Agama tidak berhenti di langit, tetapi turun menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan gerakan pemberdayaan.
Kini, di tengah potret kemiskinan baru, ketimpangan digital, eksploitasi tenaga kerja informal, dan kelelahan kelas pekerja, Muhammadiyah dihadapkan pada pertanyaan sejarah: akankah tetap menjadi penonton, atau kembali menjadi pelopor ?
Gerakan pembaruan hari ini tidak harus radikal dalam kemarahan, tetapi harus radikal dalam keberpihakan. Bukan dengan membakar sistem, tetapi dengan membangun sistem yang lebih adil. Bukan dengan retorika ideologis, tetapi dengan teologi amal saleh yang nyata. Politik kebangsaan yang beradab, ekonomi yang berkeadilan, pendidikan yang membebaskan, dan dakwah yang menghadirkan harapan - itulah bentuk jihad sosial masa kini.
Karena bila agama gagal menjawab tangisan anak miskin dan kelelahan buruh kecil, sejarah akan melahirkan ideologi lain untuk menjawabnya.
Al-Ma’un harus menjadi gerakan keberpihakan pada yatim dan dhuafa , bukan sekadar bacaan.
Al-‘Asr harus menjadi kesadaran kolektif untuk maju dan mencerahkan kehidupan bukan hanya hafalan.
Dan Muhammadiyah - dengan seluruh amal usahanya - harus berdiri di barisan terdepan sebagai gerakan Islam yang memadukan iman, ilmu, dan keberpihakan sosial.
Sebab agama yang hidup adalah agama yang menyelamatkan manusia.
Wallahu a'lam

Comments
No comments yet. Be the first to comment!