Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Hal ini disampaikan oleh Dr. Edi Santoso (Kepala Departemen Ilmu Komunikasi Unsoed) dalam materi Mindset Jurnalistik di Era Digital dan AI pada kegiatan Pesantren Jurnalistik Muhammadiyah Jawa Tengah.
Menurutnya, berita dan berbagai bentuk konten yang kita nikmati hari ini merupakan hasil evolusi panjang produk jurnalistik, dari masa manual, menuju era digital, hingga kini memasuki era kecerdasan buatan. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada cara memproduksi berita, tetapi juga pada cara masyarakat menikmati dan menyebarkannya.
Jika dahulu masyarakat lebih banyak menikmati berita yang disajikan media, kini pola tersebut berubah. Di era digital, masyarakat justru aktif mencari berita di tengah melimpahnya informasi dengan berbagai ragam konten dan kreativitas. Kondisi ini melahirkan persaingan yang semakin ketat antar media. Karena itu, kemampuan merumuskan Search Engine Optimization (SEO) yang tepat menjadi penting agar berita yang diproduksi dapat ditemukan dan dipilih oleh pembaca.
Perubahan besar juga terjadi dalam proses produksi berita. Jika dulu produksi berita membutuhkan peralatan yang rumit dan proses yang panjang, kini semua bisa dilakukan dengan smartphone dalam satu genggaman. Mulai dari pengambilan gambar, penulisan, pengeditan hingga publikasi dapat dilakukan secara cepat dan praktis.
Hal yang sama juga terjadi pada media penyiaran. Jika dahulu tampil di televisi menjadi sesuatu yang luar biasa, kini siapa pun bisa memiliki “televisi” sendiri melalui platform digital seperti YouTube, Instagram, maupun TikTok. Media audiovisual tersebut bahkan membuka peluang bagi siapa saja untuk dikenal luas oleh publik.
Namun di tengah kemajuan teknologi ini muncul pertanyaan besar: apakah AI akan menggantikan jurnalis?
Dr. Edi Santoso menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan menyangkut identitas, tanggung jawab, dan etika jurnalistik. Dalam beberapa hal, AI memang sangat membantu pekerjaan jurnalis, seperti menyusun struktur berita, memilih kata, hingga mengembangkan narasi. Teknologi ini dapat mempercepat proses produksi konten.
Meski demikian, ada banyak aspek jurnalistik yang tidak layak diserahkan sepenuhnya kepada AI. Sebagai mesin, AI tidak turun ke lapangan, tidak melakukan wawancara dengan narasumber, tidak menghadiri forum atau kajian, serta tidak memiliki pengalaman emosional. AI juga tidak selalu memiliki data statistik yang akurat dan sering kali memiliki keterbatasan informasi yang hanya tersedia pada periode tertentu.
AI sebenarnya bukan teknologi baru. Konsepnya telah ada sejak sekitar 14 tahun yang lalu, namun dalam beberapa tahun terakhir perkembangannya melesat sangat cepat. Kini AI tidak hanya mampu menghasilkan teks dan gambar, tetapi juga dapat mengubah gambar menjadi video bahkan meniru suara seseorang dengan sangat mirip. Teknologi ini dikenal sebagai AI generatif, yang memungkinkan pembuatan konten tanpa harus berada langsung di lokasi kejadian.
Namun dalam praktiknya, AI juga memiliki keterbatasan, terutama terkait data yang tidak selalu terbaru, tidak real-time, dan berpotensi menghasilkan informasi yang keliru.
Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai asisten atau co-pilot, sementara jurnalis tetap menjadi pilot yang memegang kendali penuh dalam proses produksi berita. AI dapat membantu dalam penyajian informasi, visualisasi data, hingga pembuatan infografis, video reels, dan berbagai bentuk konten kreatif lainnya.
Di era AI, peran jurnalis justru semakin penting sebagai verifikator informasi. Dalam alur kerja jurnalistik, terdapat beberapa tahapan utama yang tetap membutuhkan peran manusia, mulai dari ide dan riset, liputan lapangan, penulisan, verifikasi, hingga publikasi.
Dr. Edi juga mengingatkan agar jurnalis tidak menyerahkan sepenuhnya pada AI terutama dalam hal kutipan narasumber, referensi, dan data-data penting. Hal ini karena AI dapat mengalami halusinasi informasi, yaitu menghasilkan data yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya tidak benar. Jika tidak hati-hati, hal ini dapat merusak reputasi digital Muhammadiyah bahkan bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran dalam ajaran Islam.
Ia menegaskan bahwa jurnalis tidak akan tergantikan oleh AI. Teknologi secanggih apa pun tidak mampu menggantikan manusia yang hadir langsung di tengah peristiwa, mendengarkan cerita para narasumber, merasakan empati, dan membangun kepercayaan publik.
AI mungkin mampu menulis berita, tetapi tidak bisa duduk di hadapan pengungsi, mendengar kisah mereka, dan memastikan dunia mengetahui penderitaan mereka.
Jurnalisme pada akhirnya bukan sekadar menulis berita, tetapi tentang kehadiran manusia—mendengarkan narasumber, mencari referensi, menatap mata orang lain, dan menumbuhkan empati serta kepedulian.
Karena itu, dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, jurnalis perlu menjadikannya sebagai “starting point” atau titik awal dalam bekerja, bukan sebagai “finishing point” yang menggantikan sepenuhnya peran manusia.
Di tengah gelombang revolusi teknologi, jurnalis tetap memiliki posisi strategis sebagai penjaga kebenaran informasi, sekaligus memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan etika.
Kontributor/editor : Rudyspramz

Comments
No comments yet. Be the first to comment!