Home > Article > Category > OPINI

Thoriqoh Outbond Makrifat Milenial, sebuah Manhaj Dakwah Menggembirakan Kader

Thoriqoh Outbond Makrifat Milenial, sebuah Manhaj Dakwah Menggembirakan Kader

rudyspramz, MPI

Dakwah kalau serius bikin ngantuk, jamaah butuh retorika yang menarik dan lucu maka dai itu akan laris manis, jamaah ramai, dapat ilmu dan pedoman hidup minimal pahala dan barokah itu pasti kalau ikhlas tentunya.

Sekarang jaman terus bergulir berubah, ilmu berkembang, bikin jamaah tertawa tidak lagi konvensional tapi lewat permainan dibalik itu ada ilmu dan makna didukung suasana luar ruangan yang segar. Namun kadang larut dalam tawa dan ceria tanpa sadar sering melupakan makna dan ilmu dibalik semua permainan itu.

Itulah outbond dan sejenisnya, thoriqoh outbond menuju hakekat dan makrifat ala milenial, manhaj pembelajaran modern sudah lama ditemukan lagi-lagi oleh orang Barat yang biasanya non muslim. Kita pakai karena ada sisi kemanusiaan dan kemanfaatan untuk pembinaan calon-calon kader, tidak aneh menjadi menu wajib dalam setiap perkaderan di Muhammadiyah.

Kodrat manusia butuh bahagia dan gembira, begitu pula ajakan dakwah kalau dikemas serius kurang sampai, tapi masing mending kalau sampai 'lari' bisa berabe, retorika harus lucu, jenaka bikin jamaah betah, 'idep2' melepaskan semua kepenatan berorganisasi melupakan semua ujian hidup yang tak ada habisnya, tentunya ini bukan sebuah pelarian tapi oase dan satu rasa, bahwa ternyata kita bisa bergembira di Muhammadiyah tidak melulu program dan target, apalagi bagi pemula, anak muda butuh sesuatu yang beda kreatif dan inovatif pintu masuk menjadi kader, menjadi Muhammadiyah.

Namun nun jauh disana atau dekat-dekat sini ada sebagian kecil yang justru tidak nyaman dengan suasana rame, mereka lebih suka sunyi ditemani kopi, buku, asap dan ponsel, asyik baca buku, khusuk buka konten kajian, berpikir, merenung membandingkan  silaturahmi dan diskusi perluas wawasan, mengamati realita ujungnya menulis dan bicara. Mereka yakin kekuatan dan kebijaksanaan kader akan  tumbuh kokoh dan berbuah melalui proses ini. Karena sejatinya kita butuh ruh gerakan yang harus direvitalisasi. 

Tradisi para ulama belajar, berpikir dan menulis, karena ilmu harus diwariskan, dulu hanya dengan buku/kitab, sekarang bisa dengan konten dan media sosial, artinya tradisi berpikir dan menuangkannya dalam tulisan (buku) ucapan dan action (konten) menjadi inspirasi kita semua apalagi kalau kita bukan siapa-siapa  bukan Gus, bukan kiai tapi manusia yang terbata-bata menimba ilmu Allah dan ingin mewariskannya atau menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya

Akhirnya bagaimana pendekatan kita agar dekat dengan agama dan menjadi pejuang Persyarikatan kembali pada pilihannya masing2 namun manusia itu sebagai khalifah harus terus bertumbuh sebagai kader Muhammadiyah harus terus memperbarui semua langkah dan hanya berhenti kalau sudah di jannah  

Kader Muhammadiyah sejatinya elite agama dan elite sosial menjadi tokoh menjadi subyek bukan obyek yang membimbing umatnya dengan beragam metode dakwah dan amaliyah. 

wallahu a'lam

Comments

No comments yet. Be the first to comment!

Leave a Reply