Oleh : Dimas Julian Arman
Ketua Umum PD IPM Lamongan
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tidak lahir dari kevakuman sejarah. Organisasi ini dibangun sebagai gerakan pelajar Islam yang berakar pada nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan keberpihakan sosial.
Sejak awal pendiriannya, IPM dimaksudkan bukan semata sebagai wadah berhimpun, melainkan sebagai ruang dialektika ide, laboratorium kesadaran kritis, dan arena kaderisasi ideologis bagi pelajar.
Dalam kerangka tersebut, IPM diproyeksikan sebagai subjek perubahan sosial, bukan sekadar objek administratif organisasi.
Namun, dinamika IPM kontemporer menunjukkan gejala yang patut dicermati secara serius.
Di satu sisi, IPM mengalami kemajuan dalam pengelolaan organisasi: struktur berjalan rapi, administrasi tertata, dan aktivitas kelembagaan berlangsung secara sistematis.
Akan tetapi, di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa kerapian struktural tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan ketajaman gerakan.
IPM tampak semakin terampil mengelola organisasi, tetapi relatif kurang hadir dalam merespons persoalan-persoalan konkret yang dihadapi pelajar.
Realitas sosial pelajar hari ini menyuguhkan tantangan yang kompleks: meningkatnya biaya pendidikan, berulangnya kekerasan di lingkungan sekolah, krisis kesehatan mental, hingga problem moral dan sosial yang kian menguat.
Dalam konteks tersebut, kehadiran gerakan pelajar menjadi sangat relevan. Namun, IPM kerap dinilai lebih sibuk merawat eksistensi simbolik melalui aktivitas seremonial, produksi konten visual, dan dokumentasi media sosial, ketimbang membangun sikap kritis dan keberpihakan substantif terhadap persoalan pelajar.
Pergeseran orientasi ini juga tercermin dalam ruang-ruang diskursus internal IPM. Forum-forum yang seharusnya menjadi medium pertukaran gagasan dan perdebatan ideologis perlahan kehilangan vitalitasnya.
Diskusi kritis kerap tergantikan oleh kegiatan motivasional instan, sementara kajian sosial direduksi menjadi pelatihan pengembangan diri yang cenderung individualistik.
Afirmasi IPM sebagai Gerakan Pelajar Islam Berkemajuan menuntut refleksi berkelanjutan. Islam berkemajuan tidak cukup dimaknai sebagai identitas simbolik atau estetika visual, melainkan harus terwujud dalam keberanian berpikir kritis, keberpihakan sosial, serta komitmen etis terhadap pelajar yang mengalami marginalisasi.
Persoalan ini tidak dapat dilepaskan dari pola kepemimpinan dan kaderisasi. Jabatan struktural idealnya dipahami sebagai amanah ideologis, bukan simbol prestise.
Namun, praktik kaderisasi sering berjalan formalistik, sehingga berorientasi pada kelulusan jenjang dan rotasi struktur tanpa pendalaman nilai dan kesadaran ideologis yang memadai.
Apabila kecenderungan ini dibiarkan berlarut-larut, IPM berisiko menghadapi stagnasi gerakan sekaligus krisis legitimasi. Secara struktural, IPM mungkin tetap bertahan, tetapi secara substantif kehilangan makna di mata pelajar.
Kritik ini bukan penafian atas kerja keras kader IPM yang masih menjaga idealisme. Di berbagai daerah, nyala ideologi IPM justru dijaga oleh kader-kader yang berada di pinggiran struktur.
Namun demikian, tanggung jawab utama tetap berada di pundak kepemimpinan organisasi.
IPM tidak kekurangan sejarah dan juga tidak miskin konsep. Yang semakin langka adalah keberanian untuk jujur bercermin.
Sudah saatnya IPM tidak hanya puas dengan keteraturan internal, tetapi juga gelisah terhadap ketidakadilan eksternal yang semakin runyam, termasuk yang ikut tumbuh di dalam tubuh organisasi sendiri.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang menentukan masa depan IPM perlu diajukan secara terbuka: apakah IPM akan tumbuh sebagai gerakan pelajar yang kritis, berpihak, dan berani, atau cukup menjadi organisasi yang rapi, aman, dan perlahan ditinggalkan oleh para pelajar—khususnya pelajar Muhammadiyah yang seharusnya ia wakili ?
Repost : PWMU.Com

Comments
No comments yet. Be the first to comment!