rudyspramz, MPI
Hujan malam itu turun deras, seolah membawa pesan dari langit. Di serambi masjid yang sunyi, tinggal Simbah Kyai dan seorang pemuda yang tertahan langkahnya karena tak membawa payung. Dari sapaan sederhana mengalirlah percakapan yang hangat, gayeng, santai, namun penuh adab dan keluasan hati.
Simbah Kyai memulai dengan petuah yang jernih: "perbanyak istigfar nak, dunia sudah semakin tua, manusia sudah banyak kehilangan kesadarannya." Beliau mengingatkan bagaimana Al-Qur’an berkisah tentang kaum-kaum dahulu yang tertimpa bencana akibat kesombongan dan kelalaian mereka. Istighfar, bagi beliau, adalah jalan pulang manusia kepada Allah.
Pemuda itu mendengarkan dengan saksama, lalu menimpali dengan lembut : "nggih mbah dalam Al-Qur’an juga mengingatkan tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia. Bahwa manusia harus selalu beristighfar itu wajib, namun memikul amanah kekhalifahan untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya di bumi itu juga wajib"
Simbah Kyai manggut2, dan menjelaskan makna klasik dari para salaf tentang makna QS Ar Rum ayat 41, beliau mengatakan, : "telah tampak kerusakan di daratan dan dilautan itu menurut Abu Bakar as-Sidiq : 1) Daratan maksudnya adalah lisan, apabila kisah rusak maka menangislah manusia karena merasa tersakiti dan terdzalimi, karena lisan digunakan untuk menfitnah dan mencaci maki orang lain. 2) Lautan maksudnya adalah hati, kalau hati rusak maka menangislah malaikat. karena kerusakan hati adalah riya', sombong, hasad, dengki, ujub, dll sehingga malaikat menangis karena menyesalinya." Begitulah penafsiran Abu Bakar karena pada waktu itu daratan dan lautan belum rusak, padahal kalimatnya berbunyi telah tampak kerusakan.
Pemuda itu mengangguk, menghormati, namun juga memberi pengayaan dengan semangat zaman. Baginya, tafsir ulama terdahulu adalah cahaya yang harus terus dijaga, tetapi cahaya itu akan semakin terang bila dipadukan dengan ilmu pengetahuan modern dan realitas kerusakan lingkungan masa kini.
Ia menuturkan bahwa fenomena alam melahirkan ilmu geologi, vulkanologi, seismologi dan bahwa kerusakan lingkungan telah menjadi isu global dan bahkan banyak pihak non-Muslim dan yang tidak beragama bersungguh-sungguh menjaga bumi.
“Seharusnya kita, yang punya agama yang mengajarkan amanah terhadap alam, lebih bersemangat,” katanya.
Simbah Kyai tidak menolak. Justru beliau menyimak dengan takzim. Hikmah memang bisa lahir dari siapa saja, selama hatinya jernih.
Pemuda itu berbicara dengan penuh hormat, tentang pentingnya membawa ajaran Islam ke ranah aksi : menggabungkan tauhid dengan tanggung jawab ekologis, membangun fiqih lingkungan hidup, mengembangkan program mitigasi bencana, dan berkolaborasi untuk menyelamatkan bumi sebagai amanah Allah.
Di penghujung percakapan, hujan mulai reda. Mereka berdiri, saling menyalami, membawa pulang bukan hanya tubuh yang kering oleh reda hujan, tetapi hati yang basah oleh kesadaran baru: bahwa iman dan ilmu bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipersatukan dalam pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan semesta.
Dan malam itu, serambi masjid menjadi saksi bahwa generasi tua dan muda, ketika saling mendengar, akan menemukan jembatan emas menuju masa depan Islam yang lebih mencerahkan, menggembirakan, dan memuliakan seluruh makhluk.
wallahu'alam

Comments
No comments yet. Be the first to comment!